Peracik Kopi Oldman dari Kota Bima, Dari Kebiasaan Jadi Keuntungan

Inilah Kopi Oldman ciptaan tiga pemuda Panggi Kot Bima. AKTUALITA.INFO , Kota Bima – Bagi sebagian orang peluang bisnis tidak datang be...

Inilah Kopi Oldman ciptaan tiga pemuda Panggi Kot Bima.
AKTUALITA.INFO, Kota Bima – Bagi sebagian orang peluang bisnis tidak datang begitu saja, butuh proses dan pemikiran. Begitu juga yang dialami M Falah Ajis, Aria Haritulah, dan Ovi Rahmad Syafilah.

Tiga pemuda asal BTN Muhajirin, Kelurahan Panggi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, merupakan penikmat kopi sejak bertahun-tahun lalu. Kopi yang biasa mereka minum adalah kopi Flores.

Kebiasan menyeruput kopi Flores setiap hari ini ternyata menjadi ide bisnis bagi mereka. Yaitu menciptakan brand Kopi Tambora Oldman (pria tua, Red). “Awalnya kami berpikir kenapa meminum kopi dari Flores. Padahal kita punya kopi Tambora yang tersohor,” ujar Falah.

Melihat hal tersebut Falah mengaku, tertarik menciptakan kopi kemasan Oldman. Sebagai langkah awal, Falah bersama Aria dan Ovi patungan masing-masing Rp200 ribu. Uang tersebut dibelikan biji kopi Tambora Rp 500 ribu sebanyak sekitar 25 kilogram. Kemudian Rp 100 ribu untuk membeli kertas dan pelastik kemasan.

Falah, Aria, dan Ovi. Tiga pemuda peracik Kopi Oldman.
Falah memparkan, awalnya mereka mengolah 1 kilogram kopi. Pengolahan yang dilakukan tiga pemuda ini dengan cara tradisional. Yaitu menggoreng biji kopi menggunakan wajan tanah di atas bara api.

Mereka menggoreng kopi selama dua jam dengan api sedang. Proses penggorengan kopi biasanya dilakukan di rumah Ovi. Setelah kopi benar-benar matang, baru digiling. “Awalnya kami menumbuk biji kopi ini. tapi hasilnya tidak maksimal,” kata Falah yang saat itu didampingi Aria.

Karena hasil tumbukan kurang halus akhirnya mereka mengambil inisiatif menggiling kopi di tempat penggilingan. Kendati harus mengeluarkan biaya lebih, mamun menurut Falah itu bukan masalah, sebab bubuk kopi yang dihasilkan bagus.

Aria menambahkan, setelah kopi tergiling mereka mengepak. Dari 1 kilogram kopi bisa dibungkus menjadi 11 kemasan. Satu kemasan berisi 100 gram.

Dia mengungkapkan, awal membuat kemasan ini sempat menjadi perdebatan antara mereka. Karena harus mencari brand yang bagus. Alhasil berbagai macam nama dan logo mereka ciptakan. Namun dari semua itu tidak ada yang sesuai dengan produk yang mereka buat. “Kami sempat kebingungan. Dan akhirnya kami sepakat agar sama, akhirnya logo menggunakan wajah kami yang diedit menjadi kakek-kakek,” ungkapnya saat ditemui di rumah Falah, Senin (10/8)

Karena logonya kakek akhirnya diberi nama Oldman. Kemudian di bawahnya terdapat gambar secangkir kopi. Yang artinya kebersamaan hingga tua dengan secangkir kopi.

Untuk memperkuat brand Bima, di bawahnya dituliskan kata “Kalembo Ade”. Kata ini dipilih karena memiliki makna luas, seperti sabar, tabah, lapang dada dan lain sebagainya.

Kemudian pada kemasan bagian belakang, terdapat karikatur gunung Tambora. Ini untuk memperkuat bahwa kopi buatan mereka asli berasal dari Tambora.
“Sejujurnya, memang kopi yang kami produksi ini dari Tambora. Bahkan kami sendiri yang ke sana untuk membeli biji kopi ini,” akunya.

Bukan hanya gambar gunung yang menarik di belakang kemasan. Di bagian ini terdapat tulisan-tulisan berupa pepatah atau filsafat. Kata-kata tersebut merupakan hasil kreasi mereka dan sebagian masukan dari konsumen. “Kata-kata di belakang kemasan ini selalu berubah. Ya mirip-mirip pabrik kata Joger Bali,” ucapnya.

Untuk sisi kemasan, Aria mengaku menggunakan kertas kraf berwarna coklat. Itu untuk memperkuat kesan klasik dan simpel pada kemasan. Setelah semua pengemasan rampung, giliran mempromosikan hasil kreasi mereka. sebagai langkah awal, Aria mengaku, kebingungan mau dipasarkan ke mana kopi tersebut.

Namun saat itu Ovi memiliki ide untuk turun langsung ke lapangan. Seperti menjual ke tempat-tempat keramaian. Serta mempromosikan melalui media sosial.
“Awalnya, tidak ada yang mau membeli, tapi kami terus berusaha untuk menjual kopi ini. Alhamdulillah akhirnya ada juga peminat,” katanya.

Untuk lebih menguatkan pemasaran, Aria mengaku mereka juga terkadang membuka stan penjualan di tempat kawinan. Bahkan orang hajatan juga mejadi objek mereka untuk berjualan.

Karena promosi yang kuat melalui media sosial, sejak mereka meluncurkan produk pada Mei 2016 lalu orderan mulai datang. Bahkan kini dari Mataram dan Makassar mulai memesan. “Pekan depan kami juga akan mengirim beberapa pak ke Bandung,” tuturnya.

Menurut Aria kopi yang mereka jual ini laris karena beda dari yang lain. Sebab mencampur biji kopi arabika dan robusta. Kemudian diolah dengan konvensional. Disamping itu harganya cukup terjangkau. Untuk kemasan 100 gram itu dijual Rp 10.000. sedangkan kemasan 10 gram dijual dengan harga Rp 1.000. “Baru beberapa bulan kami berjualan keuntungan bersih sudah Rp 400 ribu. Itu pun kopi 25 kilogram yang kami beli belum habis,” bebernya.

Kendati sudah banyak dikenal, Aria bersama teman-temannya mengaku masih membutuhkan dukungan anggaran. Sebab mereka ingin produknya mempunyai label halal dari MUI, sertifikat sehat dari POM RI dan hak paten. Mereka juga ingin usaha mereka besar. Kemudian membuka lapangan kerja bagi pemuda lainnya.

[NR]

Related

Sudut Pandang 8192478273506487320

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

JADWAL PEMBENTUKAN PANTARLIH

Comments

Recent

item