Badan Bahasa Kemdikbud Meneliti Sastra Pesisir Bima dan Dompu

Tim Peneliti Badan Bahasa Kemendikbud (tiga wanita) didampingi Ketua Makombo, Ruslan S.Sos (seragam pegawai). AKTUALITA.INFO , BIMA – B...

Tim Peneliti Badan Bahasa Kemendikbud (tiga wanita) didampingi Ketua Makombo, Ruslan S.Sos (seragam pegawai).
AKTUALITA.INFO, BIMA – Bima memang kaya akan sastra dan tradisi lisannya. Kekayaan itu belum banyak diketahui dan diteliti. Sastra dan tradisi lisan yang telah hidup dan berkembang sejak berabad-abad silam di tanah Bima, menarik perhatian para peneliti bahasa dan sastra untuk menyelami lebih jauh tentang keberadaannya, terutama sastra lisan yang ada di sepanjang pesisir Bima.

Para peneliti dari Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa Bidang Pusat Perlindungan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan RI, melakukan serangkaian penelitian sastra lisan pesisir Bima. Penelitian dilakukan sejak Minggu (22/5) hingga (28/5) didampingi Ketua Majelis Kebudayaan Mbojo, Ruslan S.Sos, sebagai tim pendamping, dan peneliti muda dari kantor Bahasa Mataram, Muhammad Subkhi.

Tim peneliti dari Jakarta berjumlah 3 orang yaitu Erlis Nur Mujiningsih, Erli Yetti dan Miranti Sudarmaji. Selama sepekan, para peneliti melakukan penelitian di beberapa wilayah kecamatan di kabupaten Bima, Dompu, dan Kota Bima.

Di kabupaten Bima, tim peneliti mengunjungi kecamatan Sape, Wera, Langgudu, dan Sanggar. Di kabupaten Dompu, para peneliti melakukan observasi ritual laut Cera Labu di Desa Soro Kecamatan Kempo dan beberapa wilayah pesisir lainnya di Dompu.

Sedangkan di Kota Bima, para peneliti melakukan observasi tradisi dan sastra lisan di sekitar Teluk Bima. Disamping itu, tim peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa tokoh sastra lisan Bima. Seperti H Muhammad Tahir Alwi, Drs HAnwar Hasnun, dan sesepuh masyarakat Bima, Dr Hj Siti Maryam Sultan M Salahuddin (Ina Ka’u Mari).

Di kecamatan Sape terdapat beberapa cerita rakyat yang berkaitan dengan laut dan kehidupan laut seperti kisah tentang Duha Ra Lano (cerita dan senandung seorang ibu yang menghanyutkan dirinya ke laut karena prilaku anak-anaknya), Tabe Bangkolo (kisah tentang ikan ekor kuning), kisah Puteri Duyung, dan beberapa cerita menarik lainnya.

Di Desa Sangiang Kecamatan Wera, para peneliti menfokuskan pada tradisi pembuatan perahu masyarakat Sangiang dan mantra-mantra Kalondo Lopi dengan konsep menikahkan perahu dengan laut yang terilhami dari kisah Nabi Nuh AS. Di pesisir Langgudu, tim peneliti melakukan observasi terhadap kesenian OLO di desa Karampi kecamatan Langgudu dan desa-desa sekitarnya.

Di Kecamatan Kempo Dompu, penelitian difokuskan pada upacara Cera Labu di desa Soro. Sedangkan di Kecamatan Sanggar para peneliti mendapatkan banyak cerita tentang laut seperti Arugele dan Dae La Minga dan cerita-cerita tentang semangat bahari Kerajaan Sanggar.

Di samping itu, Sanggar juga kaya akan senandung-senandung warisan Kerajaan Sanggar seperti senandung Inde Ndua, Rawa Waro, Tijalante dan lainnya. Para peneliti juga tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang keberadaan Bahasa Kore.

Di pesisir selatan Teluk Waworada, para peneliti mendapatkan penjelasan tentang sejarah kesenian OLO dan cerita tentang Desa Karampi dan Kecamatan Langgudu.

Di samping cerita dan syair di wilayah pesisir, penelitian juga menelusuri irama atau ntoko dalam kesenian Rawa Mbojo yang berkisah tentang laut dan kehidupan maritim Bima, yaitu Ntoko Lopi Penge, Ntoko Tambora, Ntoko Koncowanco dan Ntoko Ka’e.

Ketua Tim Peneliti, Erlis Nur Mujiningsih mengemukakan, penelitian sastra lisan wilayah pesisir dilakukan serentak di 5 wilayah ke pesisir timur nusantara. Yaitu di Bulukumba, Gowa, Ternate, Tidore, dan Bima. “Kami tertarik melakukan penelitian sastra lisan pesisir di Bima ditinjau dari masa lalu tentang Bima sebagai kerajaan Maritim yang tentunya banyak menyimpan sastra dan tradisi lisan tentang maritim,” ungkap Erlis ketika ditanya tentang alasannya melakukan penelitian sastra lisan di Bima.

Sementara itu, ketua Makembo Ruslan Ssos, merasa bangga atas kehadiran tim peneliti sastra pesisir dalam rangka proses pelestarian sastra dan tradisi lisan di Bima. “Apa yang dilakukan tim peneliti dari Bidang Perlindungan, Pusat Pengembangan Dan Perlindungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ini sejalan dengan apa yang selama ini telah dilakukan oleh Komunitas Budaya Makembo dalam rangka pelestarian kesenian tradisional termasuk sastra lisan,” ungkap pria yang akrab disapa Alan Malingi ini.

Diharapkan ke depan, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dan pemacu semangat pemerintah daerah dan masyarakat Bima, untuk terus melestarikan seni sastra dan tradisi lisan sebagai warisan tak ternilai dalam rangka peremaian nilai-nilai budaya maupun promosi kesenian dan budaya serta pariwisata daerah.

[AL]

Related

Sudut Pandang 5366499396734835708

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

JADWAL PEMBENTUKAN PANTARLIH

Comments

Recent

item