Miris, Dua Gadis Belia ini Berhenti Sekolah karena Capek Jalan Kaki

Komunitas Pramuka Peduli saat bertandang ke rumah Hadijah. Tampak orangtua dan kondisi rumah Hadijah yang tidak layak huni.   AKTUALITA...

Miris, Dua Gadis Belia ini Berhenti Sekolah karena Capek Jalan Kaki
Komunitas Pramuka Peduli saat bertandang ke rumah Hadijah. Tampak orangtua dan kondisi rumah Hadijah yang tidak layak huni.  
AKTUALITA.INFO, BIMA – Untuk mendapatkan pendidikan di masa kini, rupanya tidak cukup dengan hanya memiliki semangat yang membara. Jarak sekolah dengan tempat tinggal yang terbilang jauh dari jangkauan jalan kaki, menjadi salah satu penghalang siswa-siswi miskin guna menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal.

Kondisi demikian, seperti yang dialami dua siswi SMP Negeri 1 Lambu, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Hadijah dan Sumarni. Keduanya terpaksa tidak ke sekolah karena jaraknya dengan rumah mereka sekitar 6 kilometer. Jarak yang cukup jauh ditempuh dengan jalan kaki bagi anak seusia mereka.

“Iya kak, saya terpaksa tidak sekolah karena terlalu capek kalau berjalan kaki dari rumah ke sekolah," kata Hadijah di Lambu belum lama ini.

Gadis belia yang memiliki semangat untuk sekolah ini mengaku dengan keterbatasan ekonomi orangtuanya, memaklumi dengan berusaha keras berjalan kaki ke sekolah selama ini. Awalnya jarak yang jauh tidak menjadi penghalang untuk menuntut ilmu. Tetapi lama kelamaan rasa capek dibalut peluh, dirasakan Hadijah hingga memaksanya berhenti sekolah. “Setiap hari saya jalan kaki pulang-pergi dari rumah ke sekolah. Lama kelamaan saya tidak kuat lagi,” aku Hadijah sedih.

Hadijah menuturkan, bapaknya kadang memberi uang buat sewa ojek ke sekolah. Tetapi jika terus-menerus (setiap hari) menyewa jasa ojek, katanya, bapak mendapatkan uang dari mana karena penghasilan yang tidak seberapa. “Belum lagi harus membiayai kehidupan keseharian keluarga,” aku Hadijah yang saat itu didampingi orangtuanya.

Hadijah dua tahun terakhir masih tinggal bersama kakaknya. Ketika naik kelas 3, Hadijah tidak lagi tinggal bersama karena kakaknya sudah menikah. Saat ini, Hadijah kembali tinggal bersama orangtuanya di sekitar areal persawahan di Desa Lanta, Kecamatan Lambu.

Hal yang sama dituturkan Sumarni, siswi SMP Negeri 1 Lambu yang juga tidak ke sekolah karena jarak yang dianggap cukup jauh. Faktor ekonomi keluarga yang pas-pasan membuatnya tidak bisa menggunakan jasa ojek.

Hadijah dan Sumarni sama-sama mengaku jika ada sepeda butut saja, mereka akan senang hati mengayuh demi mendapatkan pendidikan. Paling tidak, sepeda butut tersebut bisa mengurangi letih dan hemat waktu (sampai sekolah tepat waktu).

Mendengar kabar dua gadis belia itu berhenti sekolah karena jarak sekolah yang jauh, Komunitas Pramuka Peduli melalui Koordinator Satgas Pramuka Peduli Lambu, Mashudin, menyambangi kediaman mereka, Sabtu (12/3). Mashudin saat itu, mendapatkan cerita miris dari dua siswi tersebut.

Koordinator Komunitas Pramuka Peduli, Arief Rachman, merasa iba terhadap kondisi yang dialami Hadijah dan Sumarni. Kepada Koordinator Satgas Pramuka Peduli Lambu, Mashudin, Arief meminta agar melaporkan hal itu kepada UPTD Dikpora Lambu dan Kepala SMP Negeri 1 Lambu.

"Kalau tidak ada tindaklanjut dari UPTD dan kepala sekolah, Komunitas Pramuka Peduli akan menggalang dana dan memberikan bantuan sepeda untuk Hadijah dan Sumarni,” kata Arief.

Ia berharap ada donatur dan relawan yang peduli terhadap kondisi Hadijah dan Sumarni. "Saya berharap masalah ini segera bisa diatasi. Kasihan kan, hanya karena jarak Hadijah dan Sumarni tidak bisa menikmati pendidikan,” ujar Arief.

[yudha]

Related

Pendidikan 6295215474371135593

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

JADWAL PEMBENTUKAN PANTARLIH

Comments

Recent

item