Tak Benar Bima Jadi Sarang Teroris

Diskusi PUSKAB NTB terkait paham radikalisme dan terorisme di Bima. Foto: con  AKTUALITA.INFO, BIMA - Peristiwa ledakan bom yang menuru...

Diskusi PUSKAB NTB terkait paham radikalisme dan terorisme di Bima. Foto: con 
AKTUALITA.INFO, BIMA - Peristiwa ledakan bom yang menurut aparat kepolisian dilakukan oleh sekelompok teroris di Mall Sahrina Jl Thamrin Jakarta beberapa waktu lalu, kian menghangatkan kembali isu terorisme dijagat tanah air. Disusul lagi gencarnya kasus orang hilang yang disinyalir pelakunya merupakan pengurus organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Kini, organisasi tersebut sudah dinilai sesat dan menyesatkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Gerakan radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama menjadi perhatian dan kekuatiran khusus oleh sejumlah pihak, baik dari pihak penagak hukum maupun organisasi kemasyarakatan.

Kepedulian dan kekuatiran itulah sehinggga Pusat Studi Konflik Agama dan Budaya (PUSKAB) NTB menggelar Diskusi Keagamaan dengan tema “Meningkatkan Ukhwah Islamiyah dalam Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme” di Aula SMK N 3 Kota Bima, Selasa (26/1).
Diskusi keagamaan menghadirkan tiga narasumber, yakni M Saleh Ismail (Ketua MUI Kota Bima), H Muhammad Syatur (Pimpinan Ponpes Muhammadiyah), dan Alfin Syahril MSi (Akademisi). Diskusi dipandu (moderator) oleh Muhammad Yunus SPd.

Kegiatan ini menurut Pengurus PUSKAB-NTB, Suhaini Mustamin SPd, karena kasus terorisme menjadi isu yang populis. Di Bima masyarakat yang mayoritas islam sering dikaitkan dengan kasus teroris. “Agama semacam jurus ampuh untuk meligitimasi tindakan oknum tertentu ketika ingin menyerang kelompok lain. Jika label agama selalu digiring ke gerakan radikalisme maka akan mengaburkan nilai agama itu sendiri,” ungkapnya.

Lalu Pimpinan Ponpes Muhammadiyah Kota Bima, HM Syatur mengungapkan, dalam kasus terorisme oknum hanya mengatasnamakan agama. Isu terorisme sudah heboh dari dulu, sejak tahun 80-an telah gencar. “Isu teroris membuat pimpinan Ponpes merasa terbeban, kalau intitusi Ponpes dikaitkan dengan terorisme maka menjadi beban moral, sehingga hal demikian membuat sebahagian Ponpes gulung tikar (mati),” jelasnya.

Radikalisme bisa masuk Ponpes melalui cara menanamkan paham santri dan pembinanya, perekrutan orang yang ada diluar pondok, lalu ada pihak tertentu yang menyusup, dan operasi intelijen. Kenyataan yang demikian sering dihadapi oleh sejumlah Ponpes yang dituduh ada kaitannya dengan teroris.

“Untuk mengatasi agar gerakan ini tak menyebar, maka setiap pembawa paham baru yang masuk di wilayah pondok perlu didiskusikan dan diteliti lebih dahulu. Siapapun yang masuk wajib melalui pimpinan Ponpes agar mampu di filterisasi sejak awal, perekrutan orang diluar lebih ketat lagi, dan teman pergaulan santri seharusnya diketahui. Selain itu santri dan pembina diefektifkan kegiatannya, hubungan pondok dengan warga di luar pondok tetap terjaga, dan komunikasi antar Ponpes secara intensif. Kalau ada yang dinilai sudah masuk paham radikalisme disikapi secara tegas,” saran Syatur.

Disisi lain Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bima, M Saleh Ismail menyatakan, agama hanya dimanfaatkan untuk kepentingan oknum saja dengan menggunakan nama dan simbol agama (islam). Paham tentang jihad didesain dengan bagus oleh pihak tertentu agar menarik dan bisa diterima oleh banyak orang, terutama generasi muda yang labil dan minim ilmu agamanya.

“Agama (Islam) tak pernah mengajarkan cara jihad seperti yang dilakukan oleh teroris. Mereka itu hanya memakai nama agama saja agar perbuatannya punya legitimasi,” terangnya.

Setiap ada peristiwa pemboman dan kasus teroris, daerah Bima dianggap menjadi wilayah yang akan menjadi target teroris dalam pelarian. Sehingga sebagian pihak menilai Bima untuk tempat yang aman bagi pelaku terorisme. Namun penilaian yang menyudutkan itu dan sebut zona merah banyak dibantah oleh masyarakat.

“Bima bukan sarang teroris melainkan tempat persinggahan teroris. Belum ada temuan yang menyatakan di Bima merupakan tempat pelatihan untuk gerakan radikalisme, hanya saja ada teroris yang ditangkap di Bima. Kalau hal itu betul dan ada juga sebagian orang Bima yang terlibat dalam kasus terorisme. Tetapi mereka dilatih di daerah lain, jadi daerah kita bukan zona merah seperti yang jadi stigma selama ini,” tegas Saleh.

Akademisi STKIP Bima, Alfin Syahril MSi berpendapat, peran ulama dalam melalukan dakwah menjadi solusi untuk proses pencegahan, serta membangun hubungan baik sesama manusia baik seagama maupun beda agama. Ukhwah islamiyah mempunyai nilai yang universal sehingga akan melahirkan cinta kasih sesama. Nilai inilah yang menjadi dasar dalam berperilaku untuk menjalin hubugan antar agama.

“Namun dengan berkembangnya zaman telah menggeser nilai agama, dari subtansi menjadi tekstual sehingga melahirkan pahaman yang dangkal. Pahaman yang prematur ini menjadi cikal bakal tindakan kekerasan itu. Radikalisme bisa juga muncul karena kultur masyarakat dan juga bisa dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang tak adil, masih banyak kepentingan masyarakat yang belum diakomodir,” tandasnya.

Related

Sosbud 3098886894773767279

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

JADWAL PEMBENTUKAN PANTARLIH

Comments

Recent

item