Seks Bebas, Faktor Penularan AIDS di Dompu

Kepala Instalasi Fisioterapi RSUD Dompu, Syarifuddin, S.ST. FT. AKTUALITA.INFO , Dompu - Maraknya pergaulan bebas dan mengarah kepada...

Kepala Instalasi Fisioterapi RSUD Dompu, Syarifuddin, S.ST. FT.

AKTUALITA.INFO, Dompu - Maraknya pergaulan bebas dan mengarah kepada perilaku seks bebas, merupakan faktor munculnya penyakit HIV (Human Immuno Deficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) di tengah masyarakat.

Di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, ada beberapa faktor penyebab menularnya HIV/AIDS seperti seks bebas dan faktor genetika. Menurut Kepala Instalasi Fisioterapi RSUD Dompu Syarifuddin, S.ST. FT., pada umumnya penderita AIDS di Dompu berangkat dari kebiasaan atau perilaku free seks (seks bebas), baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Para penderita tersebut semuanya sudah berumah tangga. Dia mencontohkan, minggu kemarin seorang perempuan penderita AIDS yang berdomisili di Kecamatan Woja meninggal dunia.

Berdasarkan hasil konseling dan pengkajian, jelas Syarifuddin, diketahui bahwa yang bersangkutan seorang mantan TKW. Ketika bekerja di luar negeri terungkap dia berperilaku seks bebas dengan pacarnya dari Irlandia.

Sebelumnya penderita pernah dirawat di rumah sakit, namun tidak berhasil ditangani untuk usia harapan hidup yang lebih panjang, karena ketika datang konseling dan berobat, pasien dimaksud sudah pada level stadium 4.

Faktor lainnya penyebab tertularnya HIV/AIDS yakni faktor genetika. Namun selama ini hanya ditemukan satu penderita yaitu seorang anak perempuan, dimana asal muasal tertularnya karena ayahnya mengidap AIDS, kemudian menular pada ibu nya. Karena ibunya hamil dan melahirkan dia, secara otomatis juga tertulah AIDS. "Kasihan sekali, anak tersebut sudah meninggal dunia," ujar Syarifuddin, Selasa, 5 September 2017..

Sambung dia, bapaknya menderita AIDS disebabkan seks bebas, karena berprofesi sebagai Sopir dengan tryek Surabaya – Bma. Selama itu sering “jajan” di luar, dan akhirnya terinveksi.

Faktor penularan HIV/AIDS lainnya adalah jarum suntik, transfusi darah, serta cairan sperma dan cairan vagina. Menurut Syarifuddin, untuk sementara Kabupaten Dompu belum didapatkan penderita positif HID/AIDS tertular dari jarum suntik, atau hal lain. "Yang kami dapatkan, 90 persen berangkat dari free seks, baik wanita maupun laki-laki" terang dia.

Dijelaskannya, bagi penderita HIV/AIDS yang disebabkan faktor penularannya, tidak ada tanda-tanda khusus untuk mendeteksi penderita karena disebabkan faktor seks bebas atau faktor lain, itu tidak ada.

Faktor-faktor penularannya hanya diketahui dari hasil pengkajian konseling. Katanya, penderita HIV dan AIDS tidak bisa terdeteksi dengan kasat mata, hanya bisa diketahui melalui hasil tes sampel darah di laboratorium. Penglihatan dengan mata telanjang hanya sekedar mengetahui gejala seperti menurunnya daya tahan tubuh, berat badan yang menurun drastis, rambut rontok, jika mengalami sakit diare pasti diare berkepanjangan atau jika batuk pasti batuk yang lama. "Jangan dilihat posturnya besar atau kurus, tidak bisa menjamin seseorang tidak menderita HIV/AIDS," tandas Syarifuddin.

Selama ini katanya, langkah antisipasi dan meminimalisasi muncul dan penyebaran penyakit mematikan itu, pada dasarnya pihaknya bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan Aids untuk kegiatan sosialisasi, penjaringan yang sudah terkena HIV/AIDS untuk didampingin.

Sementara untuk di instalasi fisioterapi, tetap memberikan pelayanan maksimal baik konseling, pengobatan, pemantauan dan pendampingan terhadap pasien yang sudah dinyatakan positif.

Hal yang perlu dikuatirkan juga, lanjut Syarifuddin, masih berkaitan dengan seks bebas yakni praktik terselubung pekerja seks komersial yang tidak terlokalisir, menjadi hambatan untuk mendeteksi dan pendampingan pengobatan. Oleh karena itu, diharapkan banyak unsur yang harus dilibatkan untuk memberangus seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dan keamanan. "Kita libatkan dan satukan persepsi untuk berantas peraulan bebas yang mengarah ke seks bebas sehingga berakibat timbulnya HIV/AIDS," saran dia.

Menurut Syarifuddin pendidikan tentang HIV/AIDS sangat perlu, berangkat dari ketidaktahuan masyarakat tentang HIV dan AIDS secara keseluruhan, menjadi penyebab lahirnya penyakit itu.

Kembali dia berkisah, ada penderita AIDS yang bertanya padanya, apa itu AIDS yang sebenarnya. Saat itu Syarifuddin hanya mendengar dan hanya bisa memberikan semangat kepada mereka.

Dia menambahkan, kemarin pihaknya menemukan seorang kepala rumah tangga menderita AIDS. "Dan Insha Allah hari ini akan dirujuk ke Rumah Sakit Provinsi di Mataram untuk pengobatan,”

[yani]

Related

Ragam 5258535323959715200

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

Recent

Comments

item