Tiga Warga Kabupaten Dompu Positif AIDS

Ilustrasi AKTUALITA.INFO , Dompu - Jumlah penderita penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome atau disingkat AIDS di Kabupaten Domp...

Ilustrasi

AKTUALITA.INFO, Dompu - Jumlah penderita penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome atau disingkat AIDS di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, per bulan Agustus tahun 2017 terdapat sebanyak 3 orang. Jumlah tersebut diungkapkan oleh Kepala Instalasi Fisioterapi RSUD Dompu Syarifuddin, S.ST. FT., Senin, 14 Agustus 2017.

Katanya, dari 24 klien yang pernah melakukan konseling sekaligus pemeriksaan, terdapat 3 orang yang positif menderita AIDS. Syarifuddin menjelaskan, sebelum pihaknya memvonis seseorang menderita penyakit AIDS atau tidak, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan B24 sebagai penunjang bahwa penderita itu positif atau tidak. "Kami pastikan yang mengidap AIDS sebanyak 3 orang. Mereka positif divonis AIDS," terang dia.

Dikatakan, dari 24 orang yang diterima konseling, kebanyakan yang diterima adalah mereka yang sudah masuk stadium akhir yakni AIDS. "Rata- rata yang datang konseling sudah pada stadium 4,". Kenapa seperti ini, mungkin kembali lagi karena kesadaran klien yang minim soal HIV/AIDS. Menurut dia, penyakit mematikan itu (HIV/AIDS) dalam lima tahun terakhir mengalami tren peningkatan.

Kembali Syarifuddin mengulas, dari 3 orang yang positif menderita AIDS, semuanya didominasi laki dan perempuan dewasa, yang umurnya kisaran 40-an tahun dan sudah berkeluarga.

Katanya, selama ini satu-satunya cara untuk mengetahui gejala HIV/AIDS dengan melakukan tes yang disertai konseling yakni VCT (Voluntary Counseling and Testing) atau KTS (Konseling dan Tes HIV Sukarela). Tes dimaksud bersifat sukarela dan rahasia.

Sebelum melakukan tes, terlebih dahulu diberikan konseling. Konseling bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko infeksi dan juga pola hidup keseharian. Setelah tahap ini, dibahaslah cara menghadapi hasil tes HIV jika terbukti positif.

Tes HIV biasanya berupa tes darah untuk memastikan adanya antibodi terhadap HIV didalam sampel darah. Antibodi adalah protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh untuk menyerang kuman atau bakteri tertentu. Tes HIV mungkin akan diulang satu hingga tiga bulan setelah seseorang melakukan aktivitas yang dicurigai bisa membuatnya tertular virus HIV.

Dalam hal pengobatan, dia mengemukakan tidak ada kendala selama ini, begitu juga dengan peralatan deteksi. "Alhamdulillah tidak ada masalah," ujar Syarifuddin.

Meyakinkan tingkat pelayanan prima di ruangannya, Mantri Den sapaan Syarifuddin, berkisah bahwa pada tahun 2015 dirinya menemukan seorang suami yang positif HIV, sementara istrinya dalam keadaan hamil. Kata dia kembali, bahwa al demikian akan menimbulkan kecurigaan bahwa istri positif terkena HIV. Nah, setelah tiga kali dilakukan pemeriksaan dengan jeda waktu berbeda ternyata hasilnya negatif. "Alhamdulillah negatif," ungkap Syarifuddin.

Selain itu, pihaknya tetap aktif komunikasi dan memantau perkembangan kliennya. Begitu juga dengan klien aktif berkonsultasi dan berobat.

Ditanya apakah selama ini pernah ada janin yang tertular HIV/AIDS, Mantri Den, menjawab belum pernah ada. Namun, dulu pernah diketahui seorang anak berusia 5 tahun positif menderita HIV disebabkan faktor genetika dari orang tua, dimana bapak dan ibu nya mengidap HIV, dan bapak nya meninggal tahun 2015.

Belum lama ini, sambung Mantri Den sapaan Syarifuddin, anak tersebut kabarnya sudah meninggal dunia. Sedangkan ibu nya masih hidup dan menikah lagi. “Nah, inilah salah satu rantai penularan,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Mantri Den mengingatkan agar Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) atau bagian Kesra Setda Dompu memberikan informasi dan kerjasama yang baik ketika mereka turun ke lapangan dalam rangka sosialisasi atau kegiatan lainnya. "Libatkan kami saat KPA turun lapangan, karena selama ini mereka libatkan ketika ada sebatas pertemuan diruangan saja. Yang kami inginkan ketika turun lapangan libatkan kami karena kami yang lebih paham kondisi mereka," katanya.

Ditengah penjelasannya yang detail, Mantri Den mengungkapkan sedikit persoalan di dalam database pelaporan klien penderita HIV/AIDS yakni sistem dan perangkat teknologi informasi, yang tidak dimilikinya. Sedangkan keberadaan perangkat dimaksud sangat dibutuhkan.

Kekurangan itu kata Mantri Den, pernah diutarakanya ke KPA Dompu dan harapannya pada tahun 2015 silam agar bisa diakomodir, mengingat tim fisioterapi terkendala soal itu dalam pelaporan sistem online ke pusat. Dimana dalam hal laporan, pusat sedikit meragukan jika pakai cara manual.

"Sejak tahun 2015 saya memohon agar kami diperhatikan sistem pelaporannya berbasis IT, karena laporan secara manual oleh teman-teman di pusat sedikit diragukan. Jadi yang diinginkan mereka itu, ketika saya melapor ke tim ada klien yang positif, segera buat laporan," terangnya.

Kendati demikian ujar dia, pihaknya terus berupaya maksimal dalam melayani konseling, memberikan pengobatan dan melaporkan perkembangan kasus ke pusat.

Mengenai data statistik penderita HIV/AIDS di tahun 2016 sebagai data pembanding, Mantri Den mengarahkan bahwa data dimaksud ada di KPA, bagian Kesra Setda Dompu.

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit.

AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV, atau infeksi virus-virus lain.

[yani]

Related

Ragam 4034942636250147469

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

Recent

Comments

item