Langkah Inklusif di Bima: Menilik Partisipasi Pemilih Disabilitas pada Pilkada 2024

  Ilustrasi pemilih disabilitas. (Ist) Oleh : Ady Supriadin (Ketua KPU Kabupaten Bima) Demokrasi yang sehat bukan hanya soal seberapa banyak...

 

Ilustrasi pemilih disabilitas. (Ist)

Oleh : Ady Supriadin (Ketua KPU Kabupaten Bima)

Demokrasi yang sehat bukan hanya soal seberapa banyak orang datang ke TPS, tapi seberapa ramah sistem tersebut bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kawan-kawan disabilitas. Di Kabupaten Bima, perhelatan Pemilihan Serentak 2024 memberikan potret menarik tentang bagaimana aspek inklusivitas ini bekerja di lapangan.

Secara keseluruhan, Kabupaten Bima mencatatkan angka partisipasi masyarakat yang cukup impresif, yakni 79,33%,. Namun, jika kita mengalihkan lensa pada kelompok disabilitas, ada dinamika angka yang perlu kita bedah bersama untuk memahami sejauh mana "panggung" politik kita sudah benar-benar inklusif.

Angka yang Berbicara

Berdasarkan data DPT, terdapat 2.709 pemilih disabilitas di Kabupaten Bima yang terdiri dari 1.259 laki-laki dan 1.450 perempuan,. Dari jumlah tersebut, antusiasme mereka untuk hadir di bilik suara patut diacungi jempol, meski terdapat sedikit perbedaan kontras antara jenis pemilihan yang diikuti.

Pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, tingkat partisipasi pemilih disabilitas mencapai 67,48%. Artinya, sebanyak 1.828 orang menyalurkan hak suaranya. Namun, angka ini mengalami penurunan pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati, di mana partisipasi berada di angka 61,83% dengan total 1.675 pemilih.

Ada sebuah fenomena menarik di sini: pemilih perempuan disabilitas tampil lebih progresif. Pada Pemilihan Gubernur, partisipasi perempuan disabilitas menyentuh 70,34%, jauh melampaui laki-laki yang berada di angka 64,18%. Tren serupa terjadi di Pemilihan Bupati, di mana perempuan tetap unggul dengan 65,24% dibanding laki-laki yang hanya 57,90%. Ini menunjukkan bahwa perempuan disabilitas di Bima memiliki determinasi yang luar biasa dalam menentukan arah kebijakan daerah ke depan.

Antara Harapan dan Realita

Jika dibandingkan dengan tingkat partisipasi pemilih umum yang mencapai hampir 80%, partisipasi kelompok disabilitas yang berkisar di angka 61% hingga 67% ini menunjukkan masih adanya "celah",. Selisih sekitar 12-18% ini menjadi indikator bahwa aksesibilitas dan sosialisasi khusus mungkin belum sepenuhnya menjangkau seluruh kawan-kawan disabilitas.

Meskipun begitu, kehadiran ribuan pemilih disabilitas di TPS adalah bukti nyata bahwa semangat inklusivitas mulai tumbuh subur di Dana Mbojo. Mereka bukan lagi objek politik, melainkan subjek aktif yang suaranya turut menentukan legitimasi pemimpin terpilih.

Catatan Evaluatif untuk Pilkada Masa Depan di Bima

Berdasarkan data di atas, ada beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian penyelenggara pemilu (KPU/Bawaslu) serta Pemerintah Daerah ke depannya:

1. Misteri Penurunan Angka: Perlu dievaluasi mengapa partisipasi disabilitas menurun dari 67,48% pada Pemilihan Gubernur menjadi 61,83% pada Pemilihan Bupati,. Apakah ada kendala teknis di TPS atau kurangnya daya tarik visi-misi calon bupati terhadap isu disabilitas? Hal ini penting agar di masa depan, angka partisipasi tetap stabil atau bahkan meningkat di semua jenis pemilihan.

2. Aksesibilitas Fisik dan Non-Fisik: Dengan jumlah suara tidak sah yang masih ditemukan (8.667 untuk Gubernur dan 4.673 untuk Bupati secara umum), edukasi mengenai tata cara pencoblosan bagi disabilitas perlu ditingkatkan agar hak suara mereka terkonversi menjadi suara sah secara maksimal,.

3. Memperkuat Peran Perempuan: Mengingat tingginya partisipasi perempuan disabilitas, program pemberdayaan dan sosialisasi politik ke depan bisa lebih melibatkan mereka sebagai agen penggerak (influencer) bagi kelompok disabilitas lainnya.

4. Data sebagai Kunci: Sinkronisasi data DPT disabilitas dengan kondisi riil di lapangan harus terus diperbarui untuk memastikan setiap individu mendapatkan bantuan yang diperlukan saat berada di TPS, mulai dari alat bantu coblos hingga fasilitas ramah kursi roda.

Langkah inklusif di Bima sudah dimulai, namun perjalanan menuju demokrasi yang benar-benar tanpa hambatan masih memerlukan kerja keras kolektif. Jangan sampai ada satu pun suara yang tertinggal hanya karena kendala akses. (*)

Related

Sudut Pandang 7080010528189582774

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

Comments

Recent

item