Dari Garut Mengais Rejeki 'Kemerdekaan' di Dompu

Tatang dan beragam atribut tujuhbelasan jualannya. AKTUALITA.INFO, Dompu - Tanggal 17 Agustus Tahun 2016, tepat 71 tahun Indonesia Merd...

Tatang dan beragam atribut tujuhbelasan jualannya.

AKTUALITA.INFO, Dompu - Tanggal 17 Agustus Tahun 2016, tepat 71 tahun Indonesia Merdeka. Biasanya banyak momentum perayaan yang diadakan oleh Pemerintah untuk mengisi hari yang sangat bersejarah terebut.

Selain itu, imbauan pada masyarakat pun dikeluarkan oleh Pemerintah untuk memasang umbul-umbul dan menaikan Bendera Merah Putih, sebagai bentuk penghormatan akan nilai sejarah dan perjuangan para pahlawan.

Momen peringatan 17 Agustus tidak dilewatkan begitu saja oleh masyarakat, terutama para pelaku bisnis. Biasanya sebulan sebelum tanggal 17 Agustus, sudah banyak berjejer para penjual Bendera Merah Putih, umbul-umbul, aksesoris dan atribut lainnya yang bernuansa kemerdekaan RI .

Para penjual tersebut ada yang menjajakan milik sendiri, namun tidak sedikit mengais rejeki dari menjual kepunyaan orang lain.

Tatang Hidayat misalnya, jauh-jauh datang dari Kabupaten Garut, Jawa Barat, hanya untuk mengais rejeki. Dia mulai berjualan di Dompu, Nusa Tenggara Barat sejak akhir bulan Juli 2016 lalu. Saat ini sedang menawarkan barang dagangannya berupa bendera, umbul-umbul dan baground kepada konsumen di jalan protokol Kota Dompu. Barang tersebut bukan miliknya, melainkan milik bosnya di Garut. Dia hanya mengambil upah, persentase dari total penjualannya.

Menurut laki-laki 60 tahun itu, pertama kali menjejali Dompu sejak 8 tahun yang lalu, atau sekitar tahun 2008. Di daerah asalnya, Tatang aslinya berprofesi sebagai petani, sementara jualan pernak pernik Agustusan adalah pekerjaan sampingan. "Saya jualan seperti ini hanya musiman saja. Kendati demikian, cukup menambah pendapatan saya," ujar Tatang.

Untuk tahun 2016, bendera yang dibawa Tatang sebanyak 5 kodi atau 100 lembar. Kemudian umbul-umbul 30 kodi atau 600 lembar dan baground 30 lembar. Katanya, rata-rata barang dagangannya terjual 5 sampai 50 lembar per hari. "Saya dapat upah dengan sistem persentase dari total penjualan barang," tuturnya.

Kemudian untuk makan dan minum Tatang menanggung sendiri. Namun pembayaran kos-kosan ditanggung oleh bos.

Tatang tidak sendirian di Dompu. Dia punya 3 orang teman lainnya yang menyebar di beberapa titik dalam kota. Diungkapkannya, penjualan pernak-pernik Agustusan seperti ini tidak saja di Dompu, namun hampir seluruh daerah di Indonesia. "Kami disebar oleh bos hampir seluruh provinsi. Misalnya di NTB, seluruh Kabupaten ada teman kami yang jualan,"  katanya.

Saat ditanya berapa harga barang dagangannya, Tatang menuturkan bahwa untuk bendera yang ukuran kecil seharga Rp20 ribu, ukuran sedang Rp30 ribu, dan ukuran besar Rp35 ribu. Sementara untuk umbul-umbul Rp30 ribu dan baground Rp200 ribu dengan ukuran 9 meter.

Tatang menceritakan pada tahun 2014 silam, umbul-umbul terjual 35 kodi, bendera 5 kodi, dan baground terjual habis 30 kodi. "Dan itu habis terjual sekitar tanggal 14 Agustus," ujarnya.

Karena tahun 2014 omset penjualan cukup besar, sehingga tahun 2015 barang ditambah jumlahnya. Namun perkiraan penjualan meleset, hanya terjual sekitar 70 persen.

Ayah tiga anak itu kembali menceritakan penjualan tahun 2010. Katanya, penjualan tahun 2010 adalah penjualan paling besar selama ini, karena pada waktu itu dari tiga jenis barang yang dijual semuanya laku 80 kodi.

Bisa saja dijual di Garut, namun banyak pesaingnya. Sebenarnya di Surabaya juga besar omsetnya karena tiap-tiap kantor bisa membeli minimal 5 lembar dari tiap jenis barang. "Saya memanfaatkan momentum hari Kemerdekaan untuk mendapatkan sedikit rupiah walaupun harus datang jauh-jauh dari Garut," pungkas Tatang.

[yani]


Related

Ragam 1907289568709783275

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

JADWAL PEMBENTUKAN PANTARLIH

Comments

Recent

item