Eksistensi Pemuda Ditunjukan Melalui Film

Proses syuting film Komunitas Seni Bontomaranu Menghitung “Gerimis” di Komunitas Seni Bontomaranu By Landolo Conary Dunia perfi...

Eksistensi Pemuda Ditunjukan Melalui Film
Proses syuting film Komunitas Seni Bontomaranu
Menghitung “Gerimis” di Komunitas Seni Bontomaranu
By Landolo Conary

Dunia perfilman bukan sekedar hiburan, melainkan aktivitas kesenian yang menyajikan sejumlah nilai. Yakni mengupas tentang nilai agama, adat istiadat, sosial budaya, politik, ekonomi, dan fashion. Diakui banyak pihak bahwa perfilman telah banyak mempengaruhi pola pikir masyarakat pada umumnya. Hal tersebut diakui oleh Habiburahman El Sirazy, penulis buku yang telah banyak karyanya disadur jadi film layar lebar. Sebut saja, film Ayat-ayat Cinta (AAC), Ketika Cinta Bertasbih (KCB), dan Bumi Cinta.

Proses pembuatan film dan produksi film tak saja mengungkapkan sebuah nilai dalam masyarakat, tetapi sudah menjadi dunia industri. Maka secara ekonomi pula dapat meningkatkan taraf hidup orang. Melalui film juga dapat menjadi sarana menunjukan identitas, baik secara kultur maupun secara kreatifitas. Namun ada juga film yang menunjukan hal-hal yang kurang senonoh bagi budaya atau keyakinan suatu kelompok masyarakat, sehingga justru menjerumuskan penontonnya.

Melihat industri perfilman semakin maju untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, sekaligus berupaya memfilter nilai yang mampu merusak tatanan kehidupan masyarakat. Komunitas Seni Bontomaranu, berdiri sejak tahun 2014 dan bermarkas di Desa Nggembe Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Kini, sedang proses syuting film yang berjudul Menghitung Germis. Komunitas yang bergerak dibidang seni dan kemanusian ini, sebelumnya telah banyak terlibat dalam aktivitas kesenian dan kemanusiaan, diantaranya Pentas Seni Pemuda (2014), Pentas Seni Islam (2014), Festival Sangiang Api (2015), Pentas Amal Untuk Sigi Na,e (2015), Pameran Seni Rupa Dengan Tema Aku Adalah Bima (2015).

Kegiatan kemanusiaan yang telah dilakukanna yakni membawa Pasien Tumor Atas Nama Karmani (2015), membawa Pasien Tumor Atas Nama Haris (2015), dan membawa bantuan untuk Korban Bajo Pulo (2015). Keikusertaan dalam sejumlah aktivitas tersebut untuk menunjukan eksistensi kepedulian sebagai seorang pemuda.

Maka untuk memperkokoh eksistensi, Pimpinan Komunitas Seni Bontomaranu, SR Yadin mengungkapkan, kini sedang fokus proses syuting film yang remaja. Film yang terinspirasi dari novel yang ditulisnya beberapa tahun sebelumnya. Film berjudul Menghitunng Gerimis memiliki kekuatan pada karakter dan ungkapan para tokoh yang menunjung nilai budaya dan sejarah.

“Kita lagi fokus syuting. Saya buat naskah film karena terinspirasi dari novel sendiri, sekaligus jadi sutradaranya. Film ini lebih banyak menggunakan ungkapan yang puitis, nilai sastranya sangat kental dan sekaligus sebagai pembedah dari film lain. Kami ingin menunjukan seni-sastra yang kuat agar disukai oleh masyarakat,” jelas Yadin.

Sebelum proses syuting, para pemain sudah diseleksi sesuai karakter yang ada dalam naskah. Maka yang bermain dalam film Menghitung Gerimis sebagai tokoh utamanya, yakni Nur dan Ardiansyah. Keduanya masih berstatus mahasiswa. Pemain yang cewek merupakan mahasiswa STIH Bima semester VII, dan pemain laki-lakinya mahasiswa STKIP Bima.

“Kami seleksi para pemainnya dan mereka yang dipilih sudah cocok dengan harapan dan ketokohan dalam skenarionya. Mereka juga anak muda yang progresif dan masih mahasiswa sekarang. Peran anak muda seperti mereka dapat menjadi pelajaran penting bagi generasi selanjutnya, sehingga stigma anak muda lebih banyak hura-hura, mungkin lewat karya seperti ini dapat menunjukan hal positif,” tutur Yadin.

Tempat syuting dilakukan pada sejumlah lokasi yang memiliki nilai sejarah dan keindahan sebagai tempat rekreasi atau wisata. Karena film bukan saja dunia peran, namun bisa menjadi promosi tempat wisata dan budaya tertentu.

“Dalam film ini kami memilih tempat syuting disejumlah tempat yang punyai nilailah. Diantaranya, Pulau kambing, Pelabuhan, Bandara, Dana Taraha, dan Taman Batas Kota. Mungkin melalui film ini bisa membuat tempat yang berpotensi tadi menjadi pariwisata kedepanya,” terangnya.

Proses syutingnya sudah 80 porsen. Bulan maret 2016 akan selesai dan dilakukan penayangan perdana (launching). Rencana peluncuran film perdana buatan komunitasnya akan dibarengi dengan diskusi kesenian.

“Bulan maret 2016 sudah selesai dan langsung kami luncurkan. Insya Allah, kami akan gelar juga diskusi seni-perfilman dalam acara itu,” tuturnya.

Di tengah persaingan dunia perfilman yang sangat ketat dan cukup membutuhkan kualitas penggarapan yang mumpuni. Komunitas ini tak khawatir hal seperti demikian, tetap berjuang untuk mewujudkan karyanya.

“Kami tetap berkarya, walau modal materinya tak ada. Tapi, kami punya ide dan semangat untuk menunjukan kemampuan itu dalam bentuk karya nyata. Bukan sekedar pandai menilai kekurang-kelebihan hasil karya orang lain. Iya, modal kami semangat. Hanya melalui karya eksistensi anak muda bisa diakui dan dihargai,” tegas Yadin.

Tak ada perjuangan yang tak punya hambatan dan setiap karya selalu menyimpan harapan. Sehingga dalam pembuatan dan syuting film ini cukup banyak kekurangannya.

“Kalau bicara kekurangan, janganlah ditanya. Kamera saja kami pinjam dan anggaran masih patungan untuk cita-cita ini. Kami sebagai generasi sangat berharap kontribusi pihak lain untuk memotivasi, baik secara materi maupun moril. Yakin saja hal yang kami lakukan untuk publik bukan sekedar main-main,” pungkas Yadin.

Related

Sudut Pandang 7250189538458447125

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

JADWAL PEMBENTUKAN PANTARLIH

Comments

Recent

item