Atasi Konflik Melalui Karya

Kaligrafi hasil karya BBM Art. Foto: Conary Membuat Kaligrafi Untuk Masa Depan Generasi Berkarya menjadi jawaban dari semua persoal...

Kaligrafi hasil karya BBM Art. Foto: Conary

Membuat Kaligrafi Untuk Masa Depan Generasi

Berkarya menjadi jawaban dari semua persoalan yang sedang dihadapi. Maksudnya, karya yang memiliki nilai estetika, etika, sosial budaya, religiusitas, dan ekonomi. Dalam berkarya kendalanya bukan hanya persoalan dana (uang), tetapi yang lebih besar terkait dengan kemauan dan kesabaran untuk menekuninya. Potensi yang ada tak akan bisa berwujud karya yang berkualitas jika tidak diasah secara terus menerus. Maka kesuksesan seseorang sangat ditentukan dengan kerja kerasnya dalam mengasah kemampuan yang dimilikinya.

Perkembangan zaman yang pesat dengan tuntutan kebutuhan hidup pula membutuhkan seseorang untuk menciptakan sesuatu,hal itu bisa sebagai kepuasan batin bagi penciptanya (pembuatnya) sekaligus memenuhi kebutuhannya. Sehingga masalah seperti kriminalitas dan konflik mampu diminimalisir melalui menciptakan generasi yang mampu melahirkan sebuah karya nyata. Menyadari hal tersebutlah, maka terbentuknya Bima Bombo Roi (BBM) Art. BBM Art terbentuk sekitar dua tahun yang lalu atas inisiatif, Roy Js Saputra bersama rekanya. BBM Art kini beralamat di Desa Roi Kecamatan Belo Kabupaten Bima. BBM Art terbentuk karena keresahan terhadap banyak masalah yang dihadapi oleh generasi muda, terutama konflik.

“Kami membentuk wadah ini untuk membuat generasi muda sibuk dalam aktivitas yang positif. Setidaknya angka kriminalitas dan konflik bisa berkurang jika generasi muda sering dilibatkan dalam kegiatan baik. Jika kita sadari konflik itu terjadi karena tidak ada aktivitas yang bermanfaat,” jelas Roy.

Bima Bombo Roi (BBM) Art telah melahirkan karya kaligrafi logam kuningan yang dibingkai dengan fiber. Pilihan bingkai tersebut untuk memperindah kaligrafi karena kombinsinya cukup tepat. Kaligrafi logam kuningan biasa dibuat dengan ukuran panjang 145 cm dan lebarnya 50 cm. Proses karya yang tergolong rumit dan punya kendala yang bisa menghambat produktifitas karya, maka karya yang rumit tentu sebanding dengan harga yang ditawarkan.

“Kendala proses karya ini, masalah bingkainya. Soalnya bingkai harus dipesan dulu diluar daerah, yakni di Makassar-Sulawesi Selatan atau di wilayah Jawa. Kalau masalah harga variatiflah, selama ini kita jual dengan harga sebesar 1-1,5 Juta Rupiah dan itu tergantung ukuran dan kerumitan tulisanya. Bisa tembus sampai 2,5 Juta Rupiah juga,” ungkapnya.

Kerumitan yang dihadapi oleh pembuat dalam menciptakan kaligrafi yang indah adalah kerapian kerja dan jenis tulisannya juga. Soalnya model yang harus dibuat juga harus banyak, tergantung juga pada selera orang yang memesanya. Sehingga dituntu orang yang membuatnya benar-benar mahir dalam hal tersebut.

“Satu buah bingkai ukuran 145x50cm akan menghabiskan waktu seminggu jika dikerjakan sendiri, tetapi bisa sekitar 3 hari juga kalau dikerjakan secara bersama-sama (gotong royong). Waktunya lumayan lamalah, tetapi hasilnya tak akan mengecewakan orang. Walau lama mampu memuaskan,” tegasnya.

Selain kesulitan yang dihadapi oleh pengurus BBM Art dalam menciptakan karya, persoalan lain mengenai anggaran (uang). Harus diakui bahwa dalam berkarya anggaran (uang) sangat menentukan hasil karya yang tercipta.

“Anggaran yang kami gunakan dari patungan saja, kemudia setelah laku terjual baru ada kasnya. Yang banyak menghabiskan anggaran dalam pembuatan kaligrafi ini, yakni untuk pengadaan bingkainya. Karena, tempat pembeliannya sangat jauh,” terangnya.

Selama terbentuknya, BBM Art sudah menghasilkan puluhan karya dan pernah ikut pameran teknologi tepat guna yang diadakan oleh Pemerintah Kota Bima. Kegiatan yang melibatkan peserta Komunitas atau lembaga yang ada di Kabupaten/Kota se Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada kegiatan tersebut hasil karya dari BBM Art sangat direspon oleh publik (pengunjung).

“Masyarakat sangat senang dengan kaligrafi kami, bahkan ada yang tak percaya kalau karya ini dibuat oleh pemuda yang berasal dari Bima (orang asli Bima). Apa yang kami lakukan dianggap sangat dahsyat serta mampu memajukan daerah kedepanya,” terang Roy.

Roy mengaku, selama berdirinya BBM Art belum pernah dibantu oleh pemerintah daerah. Namun untuk tahun 2016 nanti sudah direncanakan untuk dialokasikan dalam anggaran Dana Desa (APBDes). Anggaran tersebut untuk operasional agar karya semakin produktifitas.
“Alhamdulillah tahun depan (2016) sudah dimasukan dalam rencana penggunaan anggaran desa untuk BBM Art. Anggaran tersebut akan kami gunakan dengan baik jika sudah diberikan,” tandasnya.

Untuk mengatasi hambatan yang ada kedepannya akan membeli alat untuk pemotongan dan pembingkain sendiri. Jika alatnya sudah ada, maka pembiayaannya tidak terlalu boros. Pembuatan kaligrafi juga bisa lebih cepat dan mampu memenuhi kebutuhan pasar. Maka sangat diharapkan kepedulian pemerintah dan dukungan semua pihak untuk semangat karya generasi muda.

“Pada prinsipnya kami tetap berkarya walau anggaran masih minim. Kami sangat yakin kedepannya generasi muda tidak sibuk dengan konflik melainkan akan terus berkarya untuk dirinya dan daerahnya. Melalui karya mereka bisa menafkahi dirinya dan tentu juga bermanfaat untuk orang lain,” pungkasnya. 

[conary]

Related

Sudut Pandang 8914990092670799501

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

JADWAL PEMBENTUKAN PANTARLIH

Comments

Recent

item