Ekspedisi Tambora Menyapa Dunia

Suasana di bibir kawah (kaldera) puncak gunung Api Tambora. /ydh Ribuan Pendaki Taklukan Puncak Gunung Api Tambora Momentum Tam...

Suasana di bibir kawah (kaldera) puncak gunung Api Tambora. /ydh

Ribuan Pendaki Taklukan Puncak Gunung Api Tambora

Momentum Tambora Menyapa Dunia (TMD) menjadi magnet para pendaki profesional dan pemula untuk menaklukan puncak gunung api Tambora. Ribuan pendaki yang datang dari berbagai daerah di belahan Nusantara, bahkan mancanegara, berhasil menaklukan puncak gunung dengan kaldera (kawah raksasa) berdiameter sekitar 7 kilometer dan kedalaman 1,250 kilometer tersebut. Bagaimana perjalanan pendakian gunung Tambora? Berikut Catatan Wartawan Aktualita.info, Yudha LM. Tudiansyah

Jalur pendakian curam dan berkabut. /yd
PENDAKI profesional dan pemula ini terdiri dari berbagai macam profesi. Ada mahasiswa, pelajar, guru, dosen, peneliti, dan jurnalis. Selain itu ada pegawai negeri sipil, karyawan BUMN dan BUMS, organisasi pemuda dan masyarakat, serta sejumlah komunitas dan kelompok warga lainnya. Kemudian ada juga tim Geologi dan Vulkanologi, Ekspedisi NKRI, Tagana, PNBK, dan sekumpulan anak-anak usia Sekolah Dasar.

Bahkan diantara pendaki, ada yang membawa serta istri dan anak-anaknya yang masih berusia di bawah lima tahun. Pasangan suami-istri ini adalah pendaki yang pernah mendaki gunung Everest Prancis.

Selain pendaki lokal (Bima dan Dompu), mereka datang dari berbagai daerah. Diantaranya dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Makassar, Bali, Lombok, dan NTT. Bahkan beberapa diantaranya warga keturunan Tionghoa. Selain itu, warga asing dari negeri Jiran-malaysia, AS, dan beberapa negara di benua Eropa juga terlihat menaklukan puncak Gunung Tambora.

Pos Pendakian Satu (Pos 1). /yd
Diantara mereka ada yang sudah melakukan pendakian beberapa hari sebelum acara puncak peringatan dua abad meletusnya gunung Tambora di Padang Savana Doro Ncanga, Desa Sori Tatanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Ada juga yang mendaki bertepatan dengan puncak peringatan acara yang dihadiri Presiden Jokowi, Sabtu 11 April 2015.

Bagi pendaki profesional, mencapai puncak gunung Tambora dengan ketinggian sebelum letusan 4.300 meter dari permukaan laut (mdpl), tidaklah seberapa. Tetapi bagi masyarakat biasa (pendaki pemula), pendakian menuju puncak kaldera gunung Tambora dengan ketinggian 2.851 mdpl (setelah letusan), bukan perkara mudah. Apalagi dalam kondisi cuaca yang kurang bersahabat (hujan dan kabut). Perlu tenaga ekstra dan motivasi yang tinggi untuk menakluk gunung yang mendunia dengan letusan dahsyatnya itu.

Tim Ekspedisi Tambora Menyapa Dunia dari media online Aktualita.info yang merupakan salahsatu group pendaki diantara ribuan pendaki lainnya, turut serta dalam pendakian memperingatan dua abad meletusnya gunung Tambora. Meski kami tergolong pendaki pemula, namun eksotik gunung Tambora sebagai stratovolkano aktif dengan letusan kolosal dua abad silam, menyuntik semangat kami untuk melihat langsung puncak kaldera dan kedalaman kawah gunung.

Pos Pendakian Dua (Pos 2) Ketinggian 1300 mdp. /yd
Menuju puncak gunung Tambora ada sejumlah jalur pendakian yang bisa dilalui. Diantaranya melalui jalur Desa Pancasila, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Ekspedisi TMD Aktualita.info memilih pendakian melalui jalur Pancasila. Jalur ini, menurut pendaki yang sudah beberapa kali mendaki, merupakan jalur mudah dan aman.

Dari Kota Bima NTB kami berangkat ke Desa Pancasila Kecamatan Pekat, Kamis sore (9 April 2015) sekitar pukul 16.00 Wita. Tiba di desa tujuan, Jumat dini hari (10 April 2015) sekitar pukul 01.30 Wita. Perjalanan langsung ke desa jalur pendakian menggunakan mobil, idealnya butuh waktu lebih kurang enam jam. Kami telat sampai desa tujuan karena mampir pada beberapa tempat, diantaranya di Padang Savana Doroncanga, lokasi pusat peringatan dua abad meletusnya gunung Tambora.

Karena kondisi yang tidak memungkinkan, kami memilih mendaki pada Jumat pagi. Kami istirahat sejenak (nginap) di rumah Kepala Dusun Pancasila, Kamarudin, untuk menjaga stamina. Dari Kepala Dusun setempat, kami mendapat informasi singkat tentang kondisi jalur pendakian.

Pos Pendakian Tiga (Pos 3) Ketinggian 1800 mdp. /yd
Jumat 10 April 2015 sekitar pukul 07.30 Wita, kami memulai pendakian. Dari rumah Kepala Dusun (depan kantor Desa Pancasila) menuju pintu masuk hutan Tambora, jaraknya cukup jauh dengan kondisi jalan yang rusak parah (tidak beraspal). Untuk sampai di sana kami menggunakan jasa pengantar (ojek) dengan ongkos Rp50 ribu per orang.

Dari pintu masuk, kami mulai berjalan kaki menyusuri hutan Tambora sekitar pukul 09.00 Wita. Agar tidak salah jalur, kami menyewa jasa pendaki lokal yang sudah mengenal seluk beluk gunung Tambora. Pendaki lokal ini selain sebagai penunjuk jalan (pemandu), sangat membantu mengangkut logistik yang sudah disiapkan untuk kebutuhan selama pendakian. Menurut pemandu itu, untuk mencapai puncak gunung Tambora memerlukan waktu dua hari. Tentunya waktu itu berlaku bagi pendaki pemula seperti kami.

Dari pintu masuk, kami menyusuri kebun kopi dan hutan Tambora menuju Pos Pendakian Satu sekitar 2,5 jam perjalanan. Medannya lumayan berat, menanjaki jalan setapak dan berkelok. Beberapa kali kami istirahat menjaga stamina. Kami tiba di Pos Pendakian Satu sekitar pukul 11.30 Wita.

Pos Pendakian Empat (Pos 4) ketinggian 2200 mdp. /yd
Di Pos Pendakian Satu, istirahat bersama ratusan pendaki lainnya. Pukul 13.15 Wita, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos Pendakian Dua dan tiba pukul 15.10 Wita. Selama perjalanan, para pendaki diguyur hujan. Perjalanan ini makin berat karena selain menanjak dan berkelok, jalannya becek dan berkabut. Cuacanya lumayan dingin menusuk tulang hingga stamina terkuras.

Hujan tidak juga mereda, kami basah kuyup dan kedinginan. Kami memilih bermalam di Pos Pendakian Dua, mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan pendakian ke Pos Pendakian Tiga. Kami membangun tenda (kemah) dan dapur untuk memasak. Demikian dengan puluhan pendaki lain, sama seperti kami memilih bermalam di Pos Pendakian Dua.

Semakin malam dingin kian menusuk. Hujan terus menggerimis kecil. Tidak ada sama sekali kayu hutan yang bisa dipakai untuk api unggun karena semuanya basah diguyur hujan. Hanya sisa-sisa plastik dan kertas dari makanan ringan (logistik) kami yang bisa dibakar untuk sekedar menghangatkan tubuh.

Pos Pendakian Lima (Pos 5) ketinggian 2460 mdp. /yd
Di pos dua ini tidak sedikit yang urung melanjutkan pendakian. Mereka menyerah karena kelelahan, tenaga terkuras karena faktor cuaca. Lantas turun kembali ke Desa Pancasila. Bagi yang mampu, terus melanjutkan pendakian.

Suasana di Pos Dua bagai kota di tengah hutan. Ramai oleh pendaki dengan tenda yang dibangun masing-masing di setiap sudut dan tebing gunung. Cahaya lilin dan senter menerangi suasana hutan yang gelap gulita malam itu. Suara obrolan dan nyanyian alam para pendaki memecah kesunyian, mengalahkan suara jangkrik dan kodok yang biasa memekik saat musim hujan di tengah hutan.

Suasana itu menyemangati para pendaki untuk terus mencapai puncak. Keakraban terjalin meski sebelumnya tidak saling mengenal. Selama perjalanan, antar-pendaki bertegur sapa dan saling menyemangati ketika berpapasan. Tak jarang saling membantu satu sama lain ketika persediaan logistik menipis. Sungguh alam gunung Tambora menyatukan manusia berbagai suku, ras, dan etnis pada momentum Tambora Menyapa Dunia ini.

Keesokan hari, Sabtu 11 April, pukul 07.55 Wita kami melanjutkan perjalanan ke Pos Pendakian Tiga.
Pendakian Cemara Terakhir menuju puncak, ketinggian 2820 mdp. 
Medan menuju pos ini serasa makin berat. Jalannya berkelok, becek, curam menanjak tajam dengan gerimis sesekali menerpa. Sungguh menguras tenaga. Kami sampai di Pos Pendakian ini pukul 10.00 Wita, dan istirahat (bangun tenda) hingga pukul 16.30 Wita. Waktu yang cukup lama untuk mengembalikan stamina bagi pendaki pemula.

Setelah beristirahat cukup, kami melanjutkan pendakian menuju Pos Pendakian Empat pukul 16.30 Wita. Medan tempuh makin menanjak saja. Masih di bawah gerimis yang sesekali menerpa. Sampai di Pos Pendakian Empat pukul 18.00 Wita.

Di Pos empat ini, pemandangan alam cukup indah untuk dinikmati sambil berfoto ria. Selain itu, kita bisa mendapatkan signal telepon seluler, meski tidak sekuat signal di bawah perkampungan. Kami memanfaatkannya untuk istirahat selama 15 menit.

Puncak Keldera, ketinggian 2850 mdp./yd
Pukul 18.15 Wita kami melanjutkan perjalanan menuju Pos Pendakian Lima. Pos terakhir menuju puncak Kaldera Gunung Tambora. Suhu udara kian dingin saja. Jarak pandang tertutup kabut, melengkapi gelapnya malam menuju pos ini. Untung saja kami melengkapi perjalanan dengan senter.
Kami tiba di Pos Pendakian Lima sekitar pukul 21.30 Wita.

Pos pendakian terakhir, namun perjalanan menuju puncak gunung belum berakhir. Masih butuh waktu bagi pendaki pemula untuk sampai ke sana. Medannya tentu makin menanjak tajam. Kami pun memilih untuk beristirahat. Kami membangun tenda dan dapur. Demikian pendaki lain memilih istirahat, membagun tenda dan dapur. Tujuannya untuk mengumpulkan energi dan stamina menuju akhir dari pendakian, Puncak Kaldera Gunung Tambora.

Minggu 12 April 2015, pukul 03.30 Wita, kami melanjutkan pendakian menuju Puncak Kaldera
Sejumlah pendaki di Bibir Kawah gunung Api Tambora./yd
Gunung Tambora. Tentu saja medannya bertambah berat. Curam, menanjak tajam. Jalur yang ditempuh tak sedikit melalui jurang terjal dan bebatuan. Beberapa kali kami terpeleset.

Dorongan semangat ingin melihat langsung eksotik puncak gunung Tambora yang menjulang di depan mata, sekuat tenaga kami terus mendaki. Dengan napas ngos-ngosan, kami sampai di puncak Kaldera Gunung Api Tambora sekitar pukul 05.30 Wita.

Lelah letih sedari awal mendaki, serasa sirna di atas puncak gunung itu. Pemandangannya luar biasa,
Bibir Kawah  gunung Api Tambora, ketinggian 2850 mdp /yd
Eksotik. Matahari terbit (sunrise) dibalik asap tebal yang muncul dari dasar kawah, melengkapi keindahan panorama puncak gunung Tambora. Para pendaki, termasuk kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan momen pendakian memperingati duaratus tahun meletusnya gunung Tambora (11 April 1815).

Di tepian puncak kawah yang retak dan terbelah, pendaki harus hati-hati. Lengah sedikit atau berdiri terlalu dekat tepian puncak kawah, dikuatirkan bisa terpeleset dan jatuh ke dasar kawah. Di sekeliling kawah yang sudah retak dan terbelah itu, tidak ada pagar pembatas. Kondisi ini sangat riskan bagi pendaki yang ingin melihat dasar kawah.

Di puncak Kaldera Gunung Api Tambora, kami dan sejumlah pendaki lainnya tidak lama. Lebih kurang dua jam kami menikmati suhu udara dan pemandangan puncak sambil berfoto ria. Suhu udara yang dingin dan berkabut, ditambah lagi asap belerang dari dasar kawah yang kian mengepul, mengganggu pernapasan hingga memaksa kami turun lebih cepat.

Sunrise di bibr kawah gunung Api Tambora. /yd
Perjalanan turun kembali dari puncak gunung hingga ke pintu masuk hutan Tambora, tidak seberat perjalanan menuju puncak. Waktu tempuh pun tidak selama waktu mendaki. Dari puncak gunung hingga perkampungan warga Desa Pancasila, menyita waktu sehari pada hari itu juga (Minggu, 12 April 2015). Kami turun mulai pukul 07.30 Wita, dan sampai di pintu masuk hutan Tambora sekitar pukul 18.30 Wita.

Setiap pos pendakian, tentu kami istirahat sejenak. Namun hanya mengisi ‘amunisi’ untuk menambah tenaga saja.

Inilah akhir dari pendakian Tambora Menyapa Dunia. Semoga (sedikit) pengalaman mendaki ini bermanfaat bagi yang belum pernah mendaki, namun ingin mencapai puncak gunung Tambora.
Kami memang bukan pendaki profesional, tapi kami sedikit berbagi pengalaman. Minimal sebagai informasi awal. Apalagi, Presiden Jokowi telah menetapkan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional. Dan ke depannya event Tambora Menyapa Dunia akan digelar setiap tahun. (*)

Related

Sosbud 5591146913746058576

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

JADWAL PEMBENTUKAN PANTARLIH

Comments

Recent

item