Aktivis di Antara Pilkada dan Pemilu Legislatif 2019

Oleh: Bambang Mei F. (Didu) Baru- baru ini sejumlah aktivis pergerakan NTB dari berbagai elemen mendeklarasikan dukungan politiknya ke...

Oleh: Bambang Mei F. (Didu)

Baru-baru ini sejumlah aktivis pergerakan NTB dari berbagai elemen mendeklarasikan dukungan politiknya ke paket AMAN. Secara taktik, sikap politik kalangan aktivis Prodem ini bisa dibenarkan dan tepat. Hal ini tentu terkait dengan menambah daya resonansi kekuatan, khususnya terkait citra baik persepsi publik terhadap aktivis.

Bambang Mei F. (Didu)
Kedua, pilihan sikap sebagian aktivis melakukan bloking politik ke AMAN ini harus dimaknai sebagai upaya menyatukan power politik kaum pergerakan dalam satu kesatuan sikap dan gerak dalam mewarnai konstelasi Pilgub NTB .

Ketiga, terkait ekspektasi atau harapan yang hendak diraih ke depan dari para aktivis dengan adanya dua momentum yakni Pilkada dan Pemilu Legislatif. Dimana kedua peristiwa politik itu dijadikan isu perekat yang berujung pada Pemilu Legislatif.

Bagi kalangan aktivis yang memiliki cita-cita karier politik ke depan, maka momentum Pilkada dijadikan tools untuk persiapan menyongsong Pemilu Legislatif lewat serangkaian gerakan investasi tanam budi kebaikkan di basis rakyat yang dikuasai.

Pilkada juga dipakai sebagai sarana mengartikulasikan kerja politik dibasis pemilih oleh kalangan aktivis. Kerja kolektif aktivis tentu diuji dalam Pilkada ini sampai sejauhmana agregasi maupun daya penetrasinya di massa rakyat.

Hubungan simbiosis politik antara Paslon dengan kaum pergerakan tidak bisa lagi diartikan dalam kontek moral force semata, namun bersifat saling memahami maksud.

Kesetiaan dan menjaga trust tentu menjadi komitmen awal yang paling utama. Pada celah ini terjadi hubungan take and give yang bermuara pemberian privelese agar aktivis bisa terback up dalam melaksanakan kerja di basis secara masif maupun kerja politik lain untuk kepentingan Paslon yang didukung.

Partisipasi Politik Aktivis

Dalam konstruksi politik yang tidak bebas nilai ini, perjuangan kaum pergerakan dalam memenangkan Paslon yang didukung patut diapresiasi. Karena Hal tersebut merupakan partisipasi politik yang kongkret dari para aktivis yang siap pasang badan.


Demikian pula di Paslon lain selain AMAN, beberapa kalangan aktivis pergerakan juga melakukan bloking politik . Semangat dan cita-citanya pun sama yakni ingin berperan memenangkan Paslon yang didukung dengan succses story.

Menyebarnya kekuatan kalangan aktivis pergerakan pada masing-masing Paslon Pilgub NTB ini merupakan dinamika yang tidak harus dikontradiksikan.

Sebagai salah satu pilihan sikap politik yang otonom, apa yang dilakukan oleh aktivis yang memilih berafiliasi ini merupakan tradisi politik yang baik. Dari momentum Pilkada ini para aktivis dapat belajar dan bekerja dengan cermat untuk terlibat sebagai vote getter dalam memperbesar perolehan suara Paslon yang didukung.

Bagi kalangan aktivis pergerakan tentu sudah tidak asing bagaimana melakukan proses pendampingan pemilih di basis konstituennya. Pelatihan metodologi tentang Community Organizer sudah pernah dijalani, sehingga memudahkan melakukan penetrasi di basis. Kelebihan para aktivis inilah yg menjadi kekuatan politik di mata Paslon lain.

Relationship Aktivis dan Media

Sudah barang tentu tampilnya kaum pergerakan dalam dinamika Pilgub NTB tidak membawa cek kosong. Dengan sejumlah pengalaman lapangan dalam melakukan pendampingan dan advokasi di grassroots, para aktivis memiliki bekal keterampilan yang bisa dijadikan alat untuk bersinergi dalam meraih suara rakyat.

Peran media dalam mengartikulasikan kerja-kerja politik para aktivis sangatlah penting. Hal ini setidaknya dapat memberikan spirit tersendiri atas kerja politik partisan yang dilakukan.

Sementara itu bagi kalangan aktivis, liputan media ini merupakan sarana untuk pencitraan yang baik untuk menuju jenjang politik ke depannya. Pilkada dan Pilgub adalah sasaran utama menuju Pemilu Legislatif 2019. Untuk itu tidak salah jika dalam Pilgub NTB banyak aktivis turba politik ke empat Paslon.

Hubungan simbiosis antara aktivis dan media sesuatu yang inheren. Sebagai sarana artikulator ke publik, media bisa menjadi sahabat yang baik para aktivis guna menerjemahkan arah maksud keinginan kaum pergerakan.

Media alat yang efektif untuk menyemai dan menabur segala kebaikkan perjuangan kaum aktivis dalam konstestasi PilGub NTB. Sehingga agak tidak masuk di akal jika para aktivis ada pola pikir menjauhi media.

Momentum Pilgub NTB ini salah satu tolok ukur menilai progress report kalangan aktivis dalam meraih dukungan dan mengamankan basis dukungannya. Media adalah saksi dan bukti sejarah yang otentik dalam menilai kerja politik kalangan aktivis lewat publikasinya ke publik. (*)

*Penulis adalah Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mataram, M16.

Related

Sudut Pandang 5806421958034927179

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

HARI LAHIR PANCASILA

SISWA MAN 2 KOTA BIMA JUARA

SELAMAT IDUL FITRI 1445 H

Comments

Recent

PENDAFTARAN PPK KAB. BIMA

HUT 22 TAHUN KOTA BIMA

item