Penobatan Putera Mahkota Bagian dari Sejarah Panjang

AKTUALITA.INFO , Bima – Penobatan Jenateke (Putra Mahkota) Kesultanan Bima, Muhammad Putera Feryyandi, tidak lepas dari sejarah panjang. Ha...

AKTUALITA.INFO, Bima – Penobatan Jenateke (Putra Mahkota) Kesultanan Bima, Muhammad Putera Feryyandi, tidak lepas dari sejarah panjang. Hal itu dibuktikan dengan adanya pelantikan raja pertama yang bernama Indra Zamrud pada abad sebelas. Dimana raja pada saat itu diangkat oleh para Ncuhi, yang dipimpin oleh Ncuhi Dara.

Abdul Karim Azis (Rato Nggampo)
Hal itu dikatakan Ketua Panitia pelaksana Penobatan Jenateke, Abdul Karim Azis SH, Kamis (15/9), di halaman ASI Mbojo.

Dae Kero, begitu Abdul Karim Azis biasa disapa, menuturkan bahwa Muhammad Putera Feryyandi merupakan putera pertama dari Sultan Bima ke XVI, almarhum H Fery Zulkarnain ST, yang akan dinobatkan sebagai Putra Mahkota Kesultanan Bima, Minggu (18/9) mendatang.

“Ia adalah keturunan langsung dari mendiang almarhum Sultan Bima ke XVI. Dan Ia merupakan keturunan yang berhubungan langsung secara vertikal, bukan horisontal,” terang pria bergelar Rato Nggampo (pejabat istana yang bertugas menyatukan masyarakat) ini.

Dikatakan, menjelang acara penobatan Jenateke Kesultanan Bima ke XVII, persiapannya sudah mencapai 70 persen. Kemudian lanjutnya, nanti akan didampingi oleh Majelis Adat Kesultanan Bima (Sara Dana Mbojo) dan lima Ncuhi sebagai perwakilan dalam penobatan tersebut. “Diantaranya Ncuhi Dara, Ncuhi Parewa, Ncuhi Padolo, Ncuhi Dorowani, dan Ncuhi Banggapupa,” sebutnya.

Dae Kero mangatakan, usai shalat jumat (16/9), akan dilaksanakan kegiatan memandikan calon Jenateke di sumur Tua, Ncuhi Dara, Kelurahan Dara, Kota Bima. Hal ini dilakukan sebagai persyaratan untuk menyucikan dan membersihkan bagi seorang sultan.

"Kalau prosesi itu selesai akan diarak menuju pemakaman raja-raja dan sultan, sekaligus melakukan do’a syukuran (do’a dana atau do’a tula bala)," katanya.

Prosesi sakral tersebut, jelas Dae Kero, dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur untuk mengingat kembali tradisi ataupun budaya lama, yang artinya tanpa membedakan satu sama lain. Semuanya sama yakni masyarakat dan mbojo. Kemudian Sabtu malam, (17/9) akan diadakan Zikir Roko/Doho Ntonggu/Pohu (mendampingi).

“Ini sebagai acara pendukung untuk meramaikan acara penobatan nanti, Minggu (18/9), di ASI Mbojo. Dan akan star dari pasar raya menuju Istana Bima (ASI Mbojo). Dalam hal ini, bertujuan bahwa sultan tersebut, diangkat dari masyarakat, untuk masyarakat dan kembali kepada masyarakat,” jelas Dae Kero.

Ia menambahkan, rencana penobatan Jenateke sudah dibahas sejak 13 Maret 2015. Dipastikannya, ada sekitar 3000 undangan yang hadir pada acara penobatan tersebut. Termasuk 20 Raja dan Sultan se Nusantara.

"Kegiatan ini sifatnya bukan karena spontanitas atau baru dibahas sekarang, tapi jauh hari sebelumnya sudah dibahas dan dirancang sedemikian rupa," akunya.

Diharapkan momentum penobatan Jenateke sebagai langkah awal  membangun kembali kepedulian untuk menjaga dan melestarikan Budaya Bima. “Kita sebagai orang Bima, mari kita jaga budaya kita sendiri yang sempat kita abaikan,” ajak Dae Kero.

 [Moen]

Related

Sosbud 1207717048246614415

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

Recent

Comments

item