Tarian Toja dan Nyayian Kalero, Nilai Budaya yang Masih Dilestarikan Masyarakat Mbawa

AKTUALITA.INFO , Donggo Bima - Keberadaan suatu daerah tidak lepas dari budaya. Melalui budaya, daerah tersebut dikenal. Desa Mbawa, Kecama...

AKTUALITA.INFO, Donggo Bima - Keberadaan suatu daerah tidak lepas dari budaya. Melalui budaya, daerah tersebut dikenal. Desa Mbawa, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga saat ini masih menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya warisan leluhurnya.

Salahsatunya adalah Tarian Toja (Tarian orang kerasukan roh halus) dan Nyayian Kalero (Nyayian untuk membangun dan mengumpulkan arwah-arwah nenek moyang atau para leluhur). "Tarian Toja merupakan tarian sakral yang tidak bisa dilakukan di sembarang tempat," kata Pemerhati Budaya Mbawa-Donggo, Ignasius Ismail, pada Aktualita.iInfo saat ditemui di rumahnya di Mbawa-Donggo, Sabtu (30/7).


Ignasius Ismail
Ketua Sanggar Ncuhi Mbawa ini mengatakan, tarian tersebut biasa dilakukan pada saat acara atau upacara tertentu. Misalnya pada saat acara syukuran dan memberi makan pada arwah-arwah para leluhur (Karawi De'wa). "Itu dilakukan pada saat ada orang atau keluarga yang sakit, yang tidak tidak bisa disembuhkan secara medis. Maka dilakukan upacara Karawi De'wa sebagai bentuk penghormatan dan ucapan rasa syukur pada leluhur (Ndo'i)," jelas Ignasius.

Menurutnya, sebelum dilakukan Tarian Toja, dibuatlah sebuah perjanjian pada para leluhur (Ndo'i) dengan melaksanakan Karawi De'wa tersebut, sampai orang ataupun keluarga yang sakit itu betul-betul sembuh. "Kalau sakitnya sudah sembuh dari perjanjian itu, baru dibuat acara yakni Karawi De'wa. Itu bisa dilakukan tiga hari dan tujuh hari. Dan tarian toja itu akan dilaksanakan pada hari penutup,”terangnya.

Tarian toja itu lanjutnya, harus betul-betul orang yang memeragakannya dalam keadaan kerasukan. Kalau sudah kerasukan maka gerakan demi gerakan akan muncul. "Kalau belum dirasuki oleh roh nenek moyang maka penari itu tidak bisa bergerak dan masih malu-malu," tuturnya.

Sedangkan Nyanyian Kalero adalah nyayian adat untuk membangunkan dan memanggil arwah-arwah nenek moyang atau para leluhur, pada saat orang akan pergi ke pemakaman. "Tujuannya untuk memanggil arwah yang sudah berpencar dan dikumpulkan kembali dengan nyayian kalero tersebut," ucap Ignasius.

Dia berharap terutama generasi muda agar tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya warisan para leluhur. Ppemerintah, baik pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten diminta mendukung dan membantu demi kelestarian budaya. "Saya pikir siapa lagi yang akan mempertahankan dan melestarikan budaya kalau bukan kita," kata Ignasius.

[Moen]

Related

Sosbud 6945784215690964601

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

Comments

Recent

item