Dunia Pendidikan di Atas Bukit

SMKN 5 Bima. /ydn A ktualita.info, Bima – SMK Negeri 5 Bima salah satu sekolah kejuruan yang beroperasi selama 12 tahun di Kabupaten...

SMKN 5 Bima. /ydn

Aktualita.info, Bima – SMK Negeri 5 Bima salah satu sekolah kejuruan yang beroperasi selama 12 tahun di Kabupaten Bima. Saat ini sekolah terus berbenah seiring lajunya perkembangan jaman. Sekolah tersebut merupakan awal dari cikal bakal SMP Negeri Rora Bima, yang dibangun sejak tahun 1989 silam.

Pada tahun 2004, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 5 Bima ini mulai beroperasi. Beberapa jurusan pendidikan menjadi target dan berjalan mulus dibawa bimbingan tenaga-tenaga pendidik terampil. Sehingga dari tahun ke tahun, tak sedikit siswa yang datang untuk mendapatkan ilmu pendidikan di sekolah kejuruan tersebut.

Minat dan animo masyarakat (orang tua) siswa yang menyekolahkan anak mereka di sekolah kejuruan itu, terus meningkat. Hingga tahun 2015 ini, tercatat jumlah siswa bersekolah sebanyak 389 orang, dari empat jurusan yang digeluti. Seperti jurusan Pertanian, Peternakan, Pengolahan Hasil Pertanian dan Tata Busana. Dua tahun sebelumnya, SMKN 5 Bima ini membuka jurusan Keperawatan, dengan jumlah siswa sebanyak 32 orang.

Di pertengahan April 2015 nanti, dunia pendidikan akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Bagi penggerak pendidikan di SMKN 5 Bima, sudah melakukan berbagai persiapan untuk mendorong agar anak didik mereka sukses dan mendapat nilai kelulusan yang memuaskan.

Kendati tahun 2015 ini UN tak lagi menjadi standar kelulusan siswa, namun tidak mempengaruhi dorongan dari pendidik (guru) di sekolah itu pupus untuk memotivasi anak didik mereka untuk terus belajar. Salah satu contoh adalah melakukan uji coba (try out) untuk mengetahui skill dan kemampuan siswa sebagai bekal menghadapi ujian nasional. Memang, uji coba seperti itu sudah menjadi rahasia umum khususnya dalam dunia pendidikan.

“Untuk tahap awal, try out sudah kita laksanakan dua bulan kemarin. Hasilnya bervariasi, ada yang mencapai 80 persen bahkan 40 persen kebawah. Tetapi hal seperti ini menjadi bahan evaluasi kami di sekolah. Sehingga dilakukan uji coba ulang dan bimbingan soal,” ujar Kepala SMK Negeri 5 Bima, Drs H Abdul Majid M.Pd, Sabtu (4/3/2015).

Selain try out, lanjutnya, siswa dari jurusan yang ada saat ini, sedang mengikuti uji praktek lainnya—seperti uji kompetensi yang berjalan selama satu bulan dan uji semester. Sedangkan uji praktek jurusan Tata Busana, disediakan mulai dari pengadaan bahan kain, cara setrika (gosok) hingga pada pencapaian finishing (tahap akhir). “Bahannya, sebagian dibiayai dari uang sekolah,” kata A Majid.

Selain SMPN Rora—SMK Negeri 5 Bima yang beralamat di Desa Rora Kecamatan Donggo ini, memiliki sembilan bangunan tersendiri, yang berdiri diatas lahan bukit dengan luas sekitar dua hektar. Salah satu sekolah yang berada dalam wilayah desa terpencil ini, ternyata tak kalah saingnya dengan sekolah-sekolah kejuruan lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pasalnya, beberapa fasilitas pendukung seperti tersedianya 21 unit perangkat lunak komputer yang dilengkapi jaringan internet, menjadi salah satu tolak ukur kemajuan dan perkembangan yang ditunjukan dalam dunia Information Technology (IT).

“Sekolah kami pernah melayani kegiatan uji kompetensi guru secara online. Kebetulan jaringan yang dimiliki adalah wifi, yang dibangun khusus untuk interkoneksi dengan jaringan yang disalurkan oleh PT Telkom di Dompu,” kata A Majid, yang merupakan tokoh pendiri SMP dan SMK di Rora tersebut.

Hingga kini, tak sedikit pula alumni SMP dan SMK Rora yang sudah menyandang gelar doktor maupun S2 berbagai jurusan di Jakarta, Surabaya dan Makassar. Bahkan diantara alumni tersebut datang dan mengabdi di sekolah yang pernah mereka geluti ilmu pendidikan pertama dan menegah. “Ada 104 guru di sekolah ini. Diantaranya 24 guru berstatus PNS, 12 orang honorer K2 (tujuh orang sudah lulus PNS) dan sisanya masih dalam tenaga sukarela,” ujar A Majid.

Maju mundurnya dunia pendidikan di sekolah, salah satunya tergantung cara pengelolaan atau manajemen yang diterapkan dalam sekolah itu sendiri. Apalagi berkaitan dengan keuangan sekolah. Tentu hal semacam ini harus dijalankan sesuai aturan, transparansi dan memiliki konsep etika administrasi keuangan (akuntabel).

Tahun 2015, SMK Negeri 5 Bima mendapat alokasi dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp204 juta—dengan jumlah penerima Bantuan Siswa Miskin (BSM) sebanyak 207 orang. Sedangkan SMP mendapat Rp114 juta dengan jumlah penerima BSM 209 orang. Untuk biaya Komite Sekolah (SMK) khususnya, rata-rata siswa membayar Rp800 ribu.

Biaya komite tersebut, tentunya tidak akan merobek uang saku mereka. Karena melalui dana BSM, akan meringankan beban biaya orang tua siswa untuk angsuran komite sekolah. “Untuk dana BSM, sekolah tak sepersen pun memotongnya. Karena semuanya diserahkan kepada yang berhak (siswa). Nanti, siswa akan membayar sendiri besaran uang komite yang sebelumnya ditetapkan komite bersama wali murid. Tujuan ini untuk menghindari asumsi masyarakat,” tutur A Majid.

[yadin]

Related

Pendidikan 382924133963336311

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

Recent

Comments

item