Penobatan Putera Mahkota, ini Kata Putri Sultan Bima XIV

Putri Sultan Bima XIV, Dr Hj Siti Maryam (Ruma Bumi Partiga) usai menobatkan Jenateke. [yudha] AKTUALITA.INFO , Bima – Ketua Majelis ...

Putri Sultan Bima XIV, Dr Hj Siti Maryam (Ruma Bumi Partiga) usai menobatkan Jenateke. [yudha]

AKTUALITA.INFO, Bima – Ketua Majelis Adat Sara Dana Mbojo, Dr Hj Siti Maryam M Salahudin mengatakan adat dan budaya Bima sudah hampir melepuh. Untuk itu, keberadaannya harus dipertahankan.

Menurut putri mendiang Sultan Bima XIV yang bergelar Ruma Bumi Partiga ini, acara penobatan Jenateke (Putra Mahkota) Kesultanan Bima ke XVII, Muhammad Putera Feryyandi, adalah momentum yang baik untuk mengangakat kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam adat dan budaya Bima.

Sepeninggal almarhum Sultan H Fery Zulkarnain ST, telah terjadi kekosongan perangkat jabatan adat Kesultanan Bima. Maka perlu untuk diangkat anaknya sebagai Jenateke (Putra Mahkota) Kesultanan Bima ke XVII, sebagai pengganti Almarhum Sultan Bima XVI tersebut.

“Berdasarkan inilah, Kami dari Majelis Adat Kesultanan Bima (Sara Dana Mbojo), sudah beberapa kali melakukan pertemuan, untuk membahas calon Jenateke (Putra Mahkota) ke XVII sejak 14 Maret 2015 lalu,” kata Ruma Mari, sapaan akrab Dr Siti Maryam M Salahuddin, dalam sambutannya sesaat sebelum menobatkan Jenateke di ASI Mbojo (Istana Kesultanan Bima), Minggu (18/09/2016).

Ruma Mari menjelaskan, dalam rangka mempertahankan adat dan budaya yang melepuh selama ini, dan untuk meningkatkan mutu berinteraksisasi yang berlaku di Negara Indonesia (di Bima khususnya), maka Ketua Majelis Adat Kesultanan Bima (Sara dana Mbojo) menerbitkan Surat Keputusan pada pada 11 Juni 2016.

Keputusan menetapakan Muhammad Putera Feryyandi Ibnu Sultan H Fery Zulkarnain ST, Ibnu Sultan Abdul Khair, Ibnu Sultan Muhammad Salahudin menjadi Jenateke (Putra Mahkota) Kesultanan Bima ke XVII. “Kami telah melakukan penelitian untuk mendapatkan usul, saran, pandangan para tokoh agama, masyarakat, dan organisasi dana mbojo,” ujarnya.

Ruma Mari menjelaskan, penobatan Jenateke mengandung sebagai perangkat kelestarian adat dan budaya nusantara, khususnya untuk mengisi kekosongan jabatan adat yang ditinggalkan oleh leluhur. Kemudian, untuk memupuk kerjasama sebagai mitra kerja pemerintah selaku pengayom masyarakat Dana Mbojo dan bangsa lain dalam wilayah adatnya tanpa membedakan golongan, suku, agama, dan wilayahnya.

“Bersama pemerintah, tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan tokoh wanita, untuk ikut mmbantu menumbuh kembangkan pembangunan kultur bangsa sesuai nilai luhur adat istiadat yang berlaku dalam wilayah kesultanan Bima khusunya, dan Kesultanan Nusantara pada umumnya,” ujarnya.

Pada kesempata itu, Ruma Mari berharap semua pihak yang terlibat dalam menyukseskan penobatan Jenateke dan para Raja dan Sultan se Nusantara, untuk mendukung dan mendorong pemerintah pusat agar ditetapkan Sultan Muhammad Salahudin sebagai Pahlawan Nasional. “Semoga dalam tahun ini, Pemerintah Pusat dapat menetapkan Sultan Muhammad Salahudin sebagai Pahlawan Nasioanal,” harapnya.

[Moen]

Related

Headline 3275092469471420675

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

Recent

Comments

item