Walikota Imbau Jaga Kerukunan Umat Beragama

Walikota Bima, HM Qurais H abidin AKTUALITA.INFO, KOTA BIMA – Wali Kota Bima, HM Qurais H. Abidin mengimbau masyarakat agar meningkatka...


Walikota Bima, HM Qurais H abidin
AKTUALITA.INFO, KOTA BIMA – Wali Kota Bima, HM Qurais H. Abidin mengimbau masyarakat agar meningkatkan toleransi antar sesama. Hidup berdampingan dengan saling memberi kasih sayang merupakan amanah yang harus dijalani meski berbeda keyakinan. “Mari menjaga kerukunan antar umat beragama,” katanya.

Wali Kota menghadiri acara silaturahim tokoh lintas agama Kota Bima yang digelar Rabu, 29 Juli 2015, di aula kantor Walikota Bima. Acara tersebut juga dihadiri oleh Wakil Walikota Bima, H. A. Rahman H. Abidin, SE, Kepala Kejaksaan Negeri Bima, Eko Prayitno, SH, MH, Dandim 1608 Bima, Letkol Arh Edi Nugraha, dan Wakapolres Bima Kota.

Silaturahim digelar untuk menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo, untuk memperkuat kerukunan antar umat beragama di seluruh daerah di Indonesia menyusul insiden di Tolikara, Papua. Insiden Tolikara yang terjadi pada hari raya Idul Fitri 1436 Hijriah, telah membangkitkan kesadaran seluruh elemen masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga kerukunan, khususnya kerukunan antar umat beragama.

Pada level nasional, Presiden segera mengajak seluruh tokoh agama untuk melakukan konsolidasi. “Pada level daerah, semua kepala daerah mengadakan dialog dengan tokoh lintas agama di daerahnya, seperti yang kita laksanakan hari ini,” jelas Qurais kepada perwakilan umat Muslim, Kristiani, Katolik, dan Hindu yang hadir.

Acara silaturahim diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bima, H. M. Saleh Ismail, dilanjutkan dengan penyampaian laporan oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bima, Eka Kurniawan.

Ketua FKUB Kota Bima melaporkan, menyusul insiden Tolikara, FKUB Kota Bima telah menandatangani kesepakatan bersama untuk menjaga kerukunan antar umat beragama di Kota Bima. “Kami selalu mengadakan acara silaturahim secara rutin, termasuk pada bulan Ramadhan kemarin, yang dilaksanakan di aula kantor Walikota Bima, yang dihadiri oleh Wakil Walikota,” demikian laporan Ketua FKUB.

Perwakilan umat Kristiani dan Katolik pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat dan Pemerintah Kota Bima. “Kami memang minoritas. Namun kami tidak merasa sebagai orang asih di sini, karena penerimaan yang baik dari masyarakat dan Pemerintah Kota Bima,” ujar perwakilan gereja Katolik Kota Bima.

Walikota pun mengajak seluruh umat beragama di Kota Bima untuk belajar dari masyarakat Bali dan Manado tentang penerapan toleransi antar umat beragama. Meredam konflik komunal seperti yang terjadi di Tolikara tidak sekadar menebar himbauan, arahan, dan bantuan rehabilitasi saja. Perlu pendekatan yang komprehensif, baik penegakan hukum dan keamanan maupun pendekatan sosial dengan melihat realitas objektif yang menjadi akar konflik. Prosesnya pun harus dilakukan secara berkelanjutan.
Hampir di semua komunitas memiliki kearifan lokal (local wisdom). 

Dalam sebuah komunitas, kearifan lokal biasanya menjadi rujukan dalam menjalani kehidupan. Konflik sebagai realitas sosial harus dikelola dengan basis pengetahuan atau kearifan lokal ini. Di sinilah pentingnya penguatan institusi lokal dalam suatu masyarakat yang rawan konflik. Institusi lokal yang dimaksud adalah FKUB. “Peran bapak-ibu sebagai ulama dan tokoh agama sangat menentukan sekali, utamanya memberi nasihat dan wejangan kepada yang di bawah agar grassroot (akar rumput/umat) bisa berkepala dingin,” kata Walikota.

[dien]

Related

Sosbud 5933323749986602118

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

JADWAL PEMBENTUKAN PANTARLIH

Comments

Recent

item