Gelombang Tinggi, Puluhan Kapal Nelayan Terdampar di Pantai Lawata

Kapal para nelayan yang terparkir di Pantai Lawata Kota Bima. Mereka takut melaut karena gelombang tinggi. [akt/ist] AKTUALITA.INFO ,...

Kapal para nelayan yang terparkir di Pantai Lawata Kota Bima. Mereka takut melaut karena gelombang tinggi. [akt/ist]

AKTUALITA.INFO, KOTA BIMA – Puluhan kapal ikan terdampar di perairan sekitar kawasan La Wata, Kota Bima. Sekitar 50 kapal pencari ikan tersebut berasal dari Desa Rompo, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima.

Satu unit kapal yang terdampar membawa 5 hingga 10 anak buah kapal (ABK). Tak hanya itu, sebagian dari mereka juga membawa istri dan anaknya melaut.

Para nelayan ini diketahui hendak mencari ikan di perairan utara Bima, Nusa Tenggara Barat. Namun cuaca ekstrem di wilayah setempat memaksa mereka menghentikan aktifitas melaut. Mereka khawatir ombak besar disertai gelombang setinggi 2 meter dan angin kencang akan mengancam keselamatan.

Keberadaan kapal-kapal berkapasitas besar ini, diketahui sudah lebih dari satu bulan. Puluhan Kapal tersebut tidak bergerak sama sekali sejak gelombang tinggi terjadi.

Ashari, seorang nelayan mengaku, ia dan para nelayan lain lebih memilih menyandarkan perahu mereka di sekitar pantai yang ramai dikunjungi wisatawan lokal tersebut. Mereka memilih menepih dan melemparkan jangkar di dekat pantai Lawata untuk berlindung sambil menunggu cuaca kembali normal.

"Sudah satu bulan lebih kita berlindung disini. Ada sekitar 50 kapal yang terdampar, kita tidak berani melaut karena gelombang tinggi serta angin kencang," kata Ashari saat ditemui di kawasan Lawata, Minggu, 6 Januari 2019.

Melihat kondisi cuaca ini, para nelayan hanya bisa pasrah. Mereka terpaksa menginap di atas kapal dan berharap cuaca segera normal kembali agar mereka bisa mencari nafkah.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka terpaksa mengutang kepada pengepul ikan dan kembali ke desa melalui jalur darat. "Tidak berani melaut, gelombang besar dan sangat berbahaya bagi keselamatan. Kita tidur aja di atas kapal. Buat makan sehari-hari, ya terpaksa kita ngutang ke pengepul untuk beli beras dan sayuran," ujar Ashari.

[akt.04]

Related

Ragam 6998645488808379285

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

JADWAL PEMBENTUKAN PANTARLIH

Comments

Recent

item