Pemerintah Perlu Evaluasi Kembali Keberadaan Distributor Pupuk

  Ilustrasi Aktualita.Info, BIMA – Meski Komisi II DPRD Kabupaten Bima telah melakukan monitoring lapangan terkait pendistribusian pup...

 
Ilustrasi

Aktualita.Info, BIMA – Meski Komisi II DPRD Kabupaten Bima telah melakukan monitoring lapangan terkait pendistribusian pupuk jenis Urea di wilayah kecamatan, namun dari hari ke hari kelangkaan pupuk tersebut kerap dialami petani. Pasalnya, hingga beberapa pekan terakhir ini, kebutuhan pupuk bersubsidi sulit didapatkan oleh sebagian besar petani di Kecamatan Bolo.

Di tengah sulitnya mendapatkan pupuk yang disubsidi oleh pemerintah saat ini, justeru sebaliknya akan mudah didapatkan jika dibeli dengan harga Rp150 ribu per zak. Dengan harga tersebut, tentu berseberangan dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Lantas, ke mana pupuk bersubsidi itu mereka dapatkan?

Informasi yang dihimpun di lapangan, ada dugaan modus operandi yang dimainkan oleh oknum tertentu yang memang sebelumnya sudah diatur sedemikian rupa di lapangan. Salahsatu contoh, mereka bisa mendapatkan pupuk bersubsidi hingga puluhan zak disaat pendistribusian. Ada kesan yang terjadi dari hasil konspirasi awal yang dibangun dengan tujuan semata-mata untuk meraup keuntungan berlipat ganda dari hak-hak petani.

Data UPT Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kecamatan Bolo menyebutkan, kebutuhan pupuk untuk Musim Hujan (MH) terhitung sejak Oktober 2014 hingga Maret 2015 mendatang pada 14 desa di Bolo menyebutkan—untuk kebutuhan tanaman Padi—Urea sebanyak 511.830 ton, SP-36 119.790 ton, ZA 34.650 ton, NPK 108.900 ton dan Organik 123.200 ton dari luas tanam 2.178 hektar.

Tanaman Padi Gogo—kebutuhan urea 80.605 ton, SP-36 18.865 ton, ZA 6.025 ton, NPK 4.450 ton dan Organik 30.600 ton—dari luas tanam 343 hektar. Tanaman Jagung—kebutuhan urea sebanyak 108.250 ton, SP-36 21.650 ton, NPK 46.000 ton—dari luas tanam 433 hektar. Untuk Tanaman Kedelai, kebutuhan pupuk urea sebanyak 105.132.5 ton, SP-36 105.132.6 ton dan NPK 205.75 ton—dari luas tanam 2102.65 hektar—dan untuk Kacang Tanah kebutuhan urea sebanyak 1250 ton dan SP-36 1250 ton dari luas tanam 25 hektar. Sedangkan untuk kebutuhan tambak, urea 23664.5 ton, SP-36 23664.5 ton, NPK 2475 ton dan Organik 4000 ton dari luas tanam 473.29 hektar.

RDKK tersebut merupakan data rill kebutuhan pupuk di tingkat petani yang kemudian direkomendasi oleh UPT Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kecamatan Bolo ke tingkat Distributor selaku mitra penyalur dari PT Pupuk Kaltim. Kalau saja mengacu RDKK, tentu tidak ada istilah terjadi kekurangan ataupun kelangkaan pupuk ditingkat petani. Termasuk pendistribusian di tingkat pengecer. Sebab, kebutuhan pupuk dimaksud sudah tertuang dalam RDKK untuk masing-masing desa. Hanya saja, hal-hal semacam itu bisa saja terjadi kecolongan bilamana terjadi lepas pengawasan/pengontrolan dari pihak terkait sehingga memberikan peluang bagi oknum tertentu untuk bermain dan menjual pupuk ke wilayah lain.

Hingga Senin (2/2/2015), kebutuhan pupuk jenis urea masih dialami langka oleh petani di Desa Rada. Bahkan pihak pengecer UD Rada Indah sendiri mengaku sudah beberapa pekan terakhir telah mengajukan RDKK agar CV Rahmawati selaku distributor segera mendistribusikan kebutuhan pupuk tersebut. “Saya sudah berkali-kali menanyakan kapan pupuk urea dikirim. Padahal saya sudah mengajukan administrasi (RDKK) termasuk uang DP dari sisa/jatah kebutuhan sebanyak 4 ton,” ujar pemilik UD Rada Indah, setelah dikonfirmasi Sabtu (31/1/15) lalu.

Suryadin, salah satu petani di So Hidirasa Desa Rada mengaku sampai dua minggu terakhir ini belum mendapatkan pupuk urea. “Saya sudah ke pengecer (UD Rada Indah,red), namun pupuk urea belum ada. Padahal yang dibutuhkan pupuk terakhir ini hanya diperkirakan 30 kilogram saja. Bagaimana dengan petani yang butuh diatas itu,” ujarnya. “Setiap tahun, persoalan ini kerap terjadi. Kalau terus menerus, lebih baik pendistribusian pupuk dipercayakan KUD yang ada,” harapnya kepada pemerintah untuk meninjau kembali kemitraan tersebut.

Wakil Direktur CV Rahmawati Imam Nurdiansyah dikonfirmasi di kediamannya, Senin (2/2/15) pagi, membantah tidak ada terjadi kelangkaan. Hanya saja, persoalan kebutuhan sisa pupuk urea sebanyak 4 ton yang diajukan UD Rada Indah, belum disalurkan. “Stocknya ada. Rencananya hari Senin kita salurkan secara merata,” katanya.

[wb]

Related

Ragam 8093600639601196296

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

Recent

Comments

item