Sekelumit Cerita Banjir Bandang di Kota Bima; Lapar, Haus, dan Kedinginan Membalut Korban

Warga Kelurahan Tanjung saat mencari dan mengumpulkan sisa-sisa barang yang hanyut diterjang banjir. [yudha] Musibah tak dapat ditola...

Warga Kelurahan Tanjung saat mencari dan mengumpulkan sisa-sisa barang yang hanyut diterjang banjir. [yudha]

Musibah tak dapat ditolak. Kehendak Yang Maha Kuasa ini bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dapat menimpa siapa saja. Begitu juga yang terjadi di Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu dan Jumat (21 dan 23 Desember 2016). Banjir bandang yang melanda kota mungil di bagian timur Provinsi NTB dua kali berturut-turut ini, menyisakan kesedihan mendalam bagi ratusan ribu jiwa di kota itu. Berikut Catatan Wartawan Aktualita.info, Yudha LM Tudiansyah. (bagian kedua)

MUSIBAH Banjir bandang pertama terjadi selama kurang lebih 12 jam. Belasan jam air menggenangi jalan-jalan protokol, lorong-lorong perkampungan, kantor pemerintah dan swasta, lahan-lahan pertanian, dan belasan ribu rumah warga. Tak terhitung harta benda dan surat-surat berharga milik warga yang tergenang dan hanyut.

Kendati banjir bandang saat itu usai dan air perlahan surut pada Kamis dini hari, bukan berarti warga sudah merasa aman. Rasa lapar dan kedinginan mulai menyerang warga. Persediaan makanan dan peralatan memasak ludes diterjang banjir. Tidak ada sama sekali tempat untuk membeli makanan dan minuman karena kios, toko, dan warung yang ada juga menjadi korban banjir bandang kala itu.

Kondisi demikian praktis membuat warga berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Dengan menahan lapar dan haus, warga korban banjir terutama ibu-ibu dan anak-anak terpaksa tidur berjejer di tempat pengungsian dengan beralaskan tikar dan selimut/kain seadanya. Tak ada yang bisa lelap karena semuanya gelisah dalam balutan cuaca yang sangat dingin.

Sementara para pria dewasa, sebagian besar tetap terjaga dalam gelap di bawah gerimis yang terus menerpa. Menunggu penuh harap adanya mentari pagi dalam balutan cuaca dingin dengan pakaian basah menempel di badan. Sebagian dari mereka ada yang mencari dan mengumpulkan sisa-sisa makanan dan minuman yang bisa dikonsumsi keluarganya, yang hanyut terbawa banjir. Apapun yang dirasa bisa dikonsumsi, mereka ambil hanya untuk mengganjal perut dan kerongkongan dari lapar dan haus malam itu.

Kondisi jalan kembar menuju pelabuhan bima yang digenangi air. 
Air benar-benar terlihat surut dari jalanan dan rumah warga pada Kamis subuh (22/12/2016). Namun pada sejumlah wilayah, terutama di sekitar bantaran dan muara sungai serta jalan raya dan pemukiman yang tergolong rendah, air masih menggenangi dengan volume yang cukup riskan bagi keselamatan dan kesehatan warga.

Merasa keadaan sudah aman dari banjir bandang, warga yang sebelumnya mengungsi kembali ke rumah masing-masing. Ada beberapa warga yang masih bertahan di tempat pengungsian sembari menunggu rumahnya dibersihkan oleh anggota keluarganya.

Kamis pagi itu sungguh hari yang melelahkan bagi warga korban banjir. Setelah semalam suntuk bergelut dengan kegelisahan, kedinginan, lapar dan haus, mereka diperhadapkan dengan pekerjaan yang lumayan berat. Membersihkan rumah dari lumpur, mengumpulkan dan membersihkan pakaian, peralatan rumahtangga maupun barang-barang berharga lainnya. Belum lagi mencari dan mengumpulkan sisa-sisa barang yang hanyut dibawa banjir.

Rasa lelah itu tidak menjadi penghalang bagi warga untuk terus mebersihkan dan membenahi rumah masing-masing. Agar mereka bisa istirahat dengan nyaman dan kembali beraktivitas seperti sebelum banjir bandang itu datang. Sedih campur lelah, nampak jelas terlihat di raut wajah mereka saat itu. Tak ada keceriaan anak-anak yang bermain, tak ada keceriaan warga yang biasa bercengkerama di emperan rumah. Yang ada hanya sedih dan lelah.

Di sepanjang jalan, di lorong-lorong perkampungan, di pagar dan halaman rumah masing-masing, penuh dengan sampah banjir bandang. Sisa-sisa material bangunan rumah, pohon tumbang, meja, kursi, tempat tidur, peralatan memasak, dokumen-dokumen, dan lainnya berserakan di jalanan dan lorong-lorong perkampungan. Bahkan sejumlah kendaraan roda empat dan roda dua, terlihat berserakan akibat keganasan arus banjir.

Belum ada bantuan tanggap darurat dari instansi terkait bencana yang datang Kamis pagi saat itu. Karena memang kondisinya masih sulit untuk dilakukan penyaluran bantuan, selain instansi terkait itu masih melakukan persiapan. Belum lagi bencana banjir bandang ini terjadi merata di wilayah Kota Bima, sehingga bantuan tanggap darurat agak sulit disalurkan secepatnya.

Beruntung, warga masyarakat daerah tetangga (Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima) terketuk hatinya membantu warga Kota Bima korban banjir bandang. Atas nama pribadi, organisasi dan relawan, mereka berduyun-duyun datang menyalurkan bantuan tanggap darurat. 

Makanan siap konsumsi (nasi bungkus dan makanan ringan) dan air mineral dalam kemasan adalah bantuan pertama yang mereka salurkan langsung ke tangan para korban dari kampung ke kampung. Setelah itu, kebutuhan primer dan sekunder lainnya menyusul. Seperti mie instan, air bersih, selimut, tikar, pakaian, barang kebutuhan perempuan dan bayi, peralatan dapur dan obat-obatan. Bantuan itu, warga Dompu dan Bima salurkan setiap saat.

Korban banjir berebutan makanan di perempatan dermaga TPI Tanjung.
Bantuan makanan dan minuman berasal dari warga Kabupaten Dompu.
Proses penyaluran bantuan dari warga Dompu dan Bima pada banjir bandang pertama ini tidak mudah. Terkadang mereka harus melewati tantangan dengan menerobos jalanan yang digenangi air dan hujan yang tak hentinya mengguyur. Bahkan tak jarang kendaraan mereka terjebak dalam kepungan air yang menggenang dan antrian panjang kendaraan relawan lainnya. 

Dengan sabar dilandasi niat tulus membantu korban banjir, mereka bertahan dan terus berusaha demi bantuan kemanusiaan itu sampai di tangan para korban. Bantuan itupun tak jarang menjadi rebutan warga korban banjir. Tak mengenal status sosial, kaya dan miskin, anak-anak, tua dan muda, semuanya berebut karena mereka sangat membutuhkannya.

Warga Kota Bima korban banjir merasa bersyukur atas bantuan itu. Warga korban banjir tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas kemurahan hati warga Kabupaten Dompu dan Bima. Kesedihan warga korban banjir sedikit terobati dengan simpati dan empati masyarakat Kabupaten Dompu dan Bima. “Sabar dan tabah menerima musibah ini saudaraku, kami ada untuk kalian saudaraku”, demikian salahsatu suara hati masyarakat Dompu dan Bima yang disampaikan melalui media sosial dan spanduk untuk korban banjir bandang Kota Bima. (bersambung)

Related

Sudut Pandang 7910049353340517051

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

Recent

Comments

item