Sekelumit Cerita Banjir Bandang di Kota Bima, Bencana Dipenghujung Tahun

Suasana saat air mulai meluap di jalan dan memasuki rumah warga Kelurahan Tanjung. Tampak sejumlah warga menyelamatkan beberapa barang mil...

Suasana saat air mulai meluap di jalan dan memasuki rumah warga Kelurahan Tanjung. Tampak sejumlah warga menyelamatkan beberapa barang miliknya. [yudha]

Musibah tak dapat ditolak. Kehendak Yang Maha Kuasa ini bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dapat menimpa siapa saja. Begitu juga yang terjadi di Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu dan Jumat (21 dan 23 Desember 2016). Banjir bandang yang melanda kota mungil di bagian timur Provinsi NTB dua kali berturut-turut ini, menyisakan kesedihan mendalam bagi ratusan ribu jiwa di kota itu. Berikut Catatan Wartawan Aktualita.info, Yudha LM Tudiansyah. (bagian pertama)

BANJIR Bandang yang tergolong dahsyat sepanjang sejarah sejak kota ini terbentuk tahun 2002, menyuguhkan cerita pilu. Air bah yang tak terbendung, seakan memberi isyarat bahwa alam sedang mengamuk di penghujung tahun ini. Belasan ribu rumah warga, bangunan pemerintah, dan sejumlah infrastruktur lainnya, luluhlantah diterjang banjir.

Ratusan ribu jiwa penghuni kota yang sedang gencar membangun ini, menatap sedih rumah dan harta benda akibat terjangan banjir yang mengganas. Derai airmata, desahan nafas lelah, dan pekikan rasa takut, membalut kesedihan mereka.

Banjir Bandang Pertama

Banjir bandang pertama menerjang Kota Bima terjadi pada Rabu sore (21/12/2016), sekitar pukul 15.30 Wita hingga Kamis dini hari (22/12/2016). Cuaca saat itu memang tidak bersahabat. Hujan yang sesekali disertai angin, tiada henti mengguyur sejak Rabu dini hari (21/12/2016) sekitar pukul 03.00 Wita hingga terjadinya banjir, Rabu sore itu.

Tiada yang menyangka cuaca extrim saat itu berdampak banjir bandang yang cukup besar. Masyarakat Kota Bima pada umumnya hanya mengira intensitas hujan yang tinggi saat itu, merupakan “jawaban” dari kemarau panjang dan intensitas hujan yang tidak menentu di Kota Bima beberapa bulan terakhir dalam tahun ini.

Warga Kelurahan Tanjung saat mengungsi ke tempat yang aman dari banjir.
Berkaca dari pengalaman beberapa tahun sebelumnya, jikapun banjir akibat cuaca extrim, yang terjadi tidak sebesar banjir kali ini. Biasanya hanya sebatas lutut orang dewasa. Itupun terjadi pada sejumlah wilayah. Terutama yang tinggal di sekitar bantaran dan muara sungai. Kerugian materil pun tidak separah banjir kali ini. Banjir bandang di penghujung tahun 2016, diakui menjadi catatan bencana banjir terbesar sejak kota ini terbentuk. Merata terjadi pada 5 kecamatan, 33 kelurahan. Dengan kerugian materil diperkirakan mencapai sekitar Rp1 triliun (estimasi kerugian sementara dirilis Pemkot Bima sebesar Rp979,3 miliar).

Mayoritas masyarakat Kota Bima yang sedari awal tidak mengira bakal terjadi banjir bandang saat itu, praktis mengalami peristiwa yang memilukan. Air bah yang seolah mengamuk, memasuki perkotaan dan lorong-lorong perkampungan. Menerjang, menghanyutkan, dan menggenangi rumah berikut isinya.

Suasana hening dari hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari karena hujan terus mengguyur saat itu, seketika berubah ramai. Air yang kian naik dan merembes ke dalam rumah masing-masing, sontak membuat warga panik. Seketika itu pula warga bergegas menyelamatkan keluarga masing-masing (istri, anak-anak, dan kakek-nenek).

Seperti di Lingkungan Sumbawa Kelurahan Tanjung Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima, yang merupakan wilayah muara sungai (daerah pesisir pantai), warga tersadar akan banjir besar bakal terjadi ketika air mengalir menutupi seluruh jalan dan lorong-lorong perkampungan, hingga merembes masuk ke dalam rumah. Saat itu sekitar pukul 16.30 Wita. Apalagi, di wilayah kota bagian timur (Kecamatan Rasanae Timur), air sudah meluap dan menerjang hingga merobohkan jembatan dan menghanyutkan sejumlah rumah.

Suasana saat itu sungguh memilukan. Di bawah guyuran hujan, banjir kian naik dan mengalir lumayan deras, warga berjibaku menyelamatkan anak-istri dan sanak famili lainnya. Tidak ada yang dapat membantu orang lain saat itu. Masing-masing warga sibuk berjibaku mengevakuasi keluarga sendiri dan menyelamatkan beberapa barang berharga yang sedapat mungkin dibawa.

Menjelang magrib air semakin naik, arus semakin menggila. Tidak ada suara azan magrib di masjid dan mushala. Yang ada hanya pekikan warga yang berusaha menyelamatkan diri sembari berteriak melantunkan “Allahu Akbar” serta tangisan ana-anak dan tua renta di tengah gemuruh banjir bandang.

Suasana makin gelap, hari berganti malam. Banjir bandang makin menjadi. Listrik padam dan jaringan komunikasi mati total. Rasa lapar dan haus mulai hinggap. Suasana sungguh mencekam. Dentuman kayu dan material bangunan lain membentur tembok rumah, pagar, tiang listrik dan lainnya yang terseret arus, makin jelas terdengar. Sungguh wilayah Kampung Sumbawa saat itu terkepung banjir. Demikian wilayah di kelurahan lain. Bahkan ada yang lebih parah. Airnya hingga atap rumah, seperti di Kelurahan Monggonao. Sarae, Paruga, dan sejumlah kelurahan di wilayah bagian timur.

Setelah mengevakuasi anak-istri dan keluarga lainnya di tempat yang aman, tidak sedikit warga kembali ke rumah yang dikepung banjir untuk sekedar mengamankan barang berharga dan mengambil beberapa keperluan rumah tangga. Melawan arus banjir yang lumayan deras dalam suasana gelap, tak menghentikan niat mereka demi tujuan itu. Meski akhirnya tidak ada yang dapat diselamatkan. Barang-barang berharga milik mereka banyak yang tergenang, tidak sedikit yang terbawa arus. Sungguh keadaan yang menyedihkan.

Di sisi lain, di tempat-tempat pengungsian yang dianggap aman dari banjir bandang. Seperti di rumah susun sederhana sewa (Rusunawa), masjid bertingkat, dan di atas kapal-kapal barang di pelabuhan bima, para ibu dan anak-anak gelisah memikirkan keadaan suami dan ayah mereka yang kembali ke rumah. Demikian sebaliknya, para ayah dan suami gelisah. Itu semua karena listrik padam dan jaringan komunikasi mati total. Tidak bisa menghubungi siapa, dan tidak bisa melihat siapa.

Lebih mengharukan lagi, keluarga yang terpisah sebelum dan saat banjir bandang. Kala itu mereka tidak bisa bertemu, tidak bisa saling mengetahui keadaan, dan tidak bisa saling menghubungi karena listrik padam dan jaringan komunikasi mati total. Yang ada derai airmata penuh kesedihan. Mereka baru bisa bertemu setelah air perlahan surut, dan setelah berjam-jam saling mencari kesana kemari.

Selain mengungsi di tempat-tempat yang dianggap aman tersebut, ada juga beberapa warga yang bertahan di rumah. Salahsatuanya adalah keluarga Suryadin dan Tju, warga RT 12 RW 04, Kelurahan Tanjung. Pasangan suami-istri dengan empat anak yang masih kecil ini nekat bertahan di atas plafon rumahnya, karena kebingungan mau mengungsi ke mana. Untungnya pilihan nekat tukang servis barang-barang elektronik ini tidak berdampak buruk bagi anak-anaknya hingga air surut. (bersambung)

Related

Sudut Pandang 8286090319712035709

Posting Komentar Default Comments

Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

emo-but-icon

Recent

Comments

item